SULAWESI BARAT — Kenaikan harga minyak dunia selama empat hari berturut-turut kali ini punya akar masalah yang jelas: kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran. Sebagai gantinya, Washington justru menyiapkan paket tekanan ekonomi baru yang menurut Menteri Keuangan Scott Bessent kemungkinan besar diumumkan pekan ini.
Selat Hormuz: Titik Paling Rentan yang Bikin Pasokan Tersendat
Yang membuat pasar energi semakin tegang adalah status Selat Hormuz yang masih belum pasti. Jalur air yang menghubungkan produsen minyak utama Teluk Persia dengan pasar global ini kini hanya dilalui sedikit kapal. Padahal, sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati selat tersebut setiap harinya.Uni Emirat Arab (UEA) sudah mengambil sikap tegas dengan menangguhkan seluruh perdagangan dan transaksi keuangan dengan Teheran. Posisi UEA memang unik—secara geografis berada tepat di seberang Teluk Persia dari Iran, membuat sektor pelayarannya kerap menjadi sasaran serangan. Keputusan ini semakin mempersempit ruang gerak ekspor minyak Iran di tengah blokade pelabuhan yang sudah diterapkan AS.
Diesel: Biang Kerok Inflasi yang Lebih Parah dari Minyak Mentah
Ada satu hal yang lebih mengkhawatirkan daripada harga minyak mentah itu sendiri: lonjakan harga produk olahan, terutama diesel. Margin pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar di AS sudah menembus US$ 100 per barel—rekor tertinggi sepanjang masa. Artinya, biaya memproduksi diesel jauh lebih mahal dibandingkan harga jual minyak mentahnya.Pasar diesel global saat ini sangat ketat. Pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat konflik, sementara Rusia menghentikan ekspor setelah serangan terhadap kilang-kilang minyaknya. American Petroleum Institute (API) melaporkan penurunan stok produk sulingan yang mencakup kategori diesel, termasuk penurunan moderat di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma.
Bagi pengendara dan pengemudi truk, ini kabar buruk. Kenaikan harga diesel berdampak langsung ke biaya transportasi barang, yang ujung-ujungnya membebani harga kebutuhan pokok di pasar. Sektor industri yang bergantung pada genset diesel juga ikut tertekan.
Yang Perlu Diperhatikan untuk Indonesia
Meski artikel ini tidak menyebut data spesifik Indonesia, arah dampaknya bisa dibaca dari pola historis. Indonesia adalah importir minyak mentah dan BBM, sehingga kenaikan harga acuan dunia hampir selalu diikuti penyesuaian harga jual dalam negeri—baik lewat mekanisme pasar untuk Pertamax maupun lewat kompensasi untuk solar subsidi.Tekanan terbesar justru datang dari harga diesel yang melonjak lebih tinggi dari minyak mentah. Jika tren ini berlanjut, biaya distribusi barang di dalam negeri berpotensi naik, dan inflasi transportasi bisa menjadi momok yang sama seperti krisis energi 2022 lalu. Pemerintah tentu punya opsi menahan harga BBM bersubsidi, tapi itu berarti beban APBN semakin berat.
Satu-satunya kabar yang bisa sedikit meredakan adalah laporan API soal penurunan stok minyak mentah AS yang masih moderat—bukan penurunan drastis yang bisa memicu panic buying. Namun dengan rencana sanksi baru AS ke Iran dan belum ada titik terang negosiasi, volatilitas harga minyak dalam jangka pendek masih akan tinggi.