SULAWESI BARAT — Nasib LIV Golf League memasuki titik paling kritis. Setelah tiga tahun menjadi kekuatan disruptif di golf pria, sirkuit yang didanai Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) ini belum juga menemukan kepastian regulasi dan pengakuan resmi dari otoritas olahraga. Perjanjian kerangka kerja mengejutkan antara PGA Tour, DP World Tour, dan PIF pada Juni 2023 gagal menyatukan kembali permainan golf pria.
Kesepakatan itu memang menghentikan seluruh gugatan hukum yang saling menggugat. Namun, hingga LIV menutup musim 2026, belum ada satu pun merger atau struktur kolaborasi konkret yang terwujud di atas kertas.
Kelahiran yang Langsung Memicu Perang Dingin
LIV Golf Investments resmi diumumkan pada Oktober 2021 dengan Greg Norman, dua kali juara The Open, sebagai CEO pendiri. Enam bulan berselang, sirkuit ini mengumumkan jadwal delapan turnamen perdananya dengan total hadiah fantastis: £191,32 juta (sekitar Rp3,8 triliun) untuk satu musim penuh.
Pecahnya konflik tak terhindarkan. PGA Tour langsung membekukan pemain yang tampil di ajang LIV Golf London pada Juni 2022, turnamen yang akhirnya dimenangkan Charl Schwartzel. DP World Tour menyusul dengan denda £100.000 untuk para pembelot.
Eksodus Pemain Bintang dan Kutukan Kapten Eropa
Nama-nama besar berduyun-duyun hengkang. Dustin Johnson, Sergio Garcia, Bryson DeChambeau, hingga Brooks Koepka menjadi gelombang pertama. Puncaknya terjadi pada Juli 2022 ketika Henrik Stenson dipecat dari jabatan kapten Tim Eropa untuk Ryder Cup 2023 hanya beberapa jam setelah resmi bergabung ke LIV.
Jon Rahm menjadi batu bata terbesar pada Desember 2023. Juara Masters April 2023 itu dilaporkan menerima kontrak senilai hingga £450 juta (sekitar Rp9 triliun). Tyrrell Hatton menyusul sebulan kemudian dengan nilai dilaporkan £47,3 juta.
Kegagalan Poin Peringkat dan Gugatan Hukum
Di luar hiruk-pikuk kontrak, LIV Golf justru kalah di meja administrasi. Aplikasi untuk mendapatkan poin Official World Golf Ranking (OWGR) ditolak pada Oktober 2023. Tanpa poin peringkat, para pemain LIV kesulitan lolos ke turnamen mayor secara otomatis, kecuali diundang khusus seperti kebijakan Augusta National untuk The Masters.
Sengketa hukum juga tak kunjung padam. Sebelas pemain LIV, termasuk Phil Mickelson dan Ian Poulter, menggugat PGA Tour atas tuduhan monopoli pada Agustus 2022. PGA Tour balik menggugat PIF dan gubernurnya, Yasir Al-Rumayyan, dua bulan kemudian. Semua gugatan itu baru berhenti setelah perjanjian kerangka kerja Juni 2023.
Ketegangan di Dalam Lapangan
Perseteruan tak hanya terjadi antar-tur. Di internal LIV sendiri, hubungan antar pemain memanas. Insiden 'tee-gate' mewarnai Januari 2023 ketika Patrick Reed melempar tee ke arah Rory McIlroy di Dubai, setelah sebelumnya menuduh McIlroy mengabaikannya.
McIlroy, yang menjadi kritikus paling vokal, bahkan menyerukan Greg Norman mundur pada November 2022 agar negosiasi damai bisa berjalan. Ia juga menyebut LIV sebagai "sinetron" dan mengaku hubungannya dengan beberapa rekan setim Ryder Cup yang pindah ke LIV menjadi renggang.
Pencapaian di Major dan Pertanyaan Berikutnya
Di tengah kekacauan, LIV membuktikan daya saingnya. Brooks Koepka menjadi pemain LIV pertama yang memenangkan major saat merebut PGA Championship Mei 2023. Namun, prestasi individu itu tidak serta-merta menyelesaikan masalah struktural.
Pertanyaan terbesar kini bukan lagi siapa yang akan pindah, melainkan apakah LIV bisa bertahan sebagai entitas yang diakui. Dengan musim 2026 usai tanpa kejelasan poin peringkat dan masa depan perjanjian dengan PGA Tour yang masih abu-abu, sirkuit ini memasuki fase paling genting sejak didirikan.