Pencarian

Maulid Salabose di Majene Jadi Bukti Akulturasi Islam dan Budaya Mandar, Ini Kisah Syech Abdul Mannan Buka Keris Raja

Selasa, 25 Agustus 2026 • 15:13:01 WIB
Maulid Salabose di Majene Jadi Bukti Akulturasi Islam dan Budaya Mandar, Ini Kisah Syech Abdul Mannan Buka Keris Raja
Warga mengikuti peringatan Maulid Salabose di Majene, Sulawesi Barat, sebagai wujud akulturasi Islam dan budaya Mandar.

MAJENE — Perjalanan dari Mamuju menuju Salabose, Majene, pada Rabiul Awal 1448 H/2026 M menjadi momentum bagi umat Muslim Sulawesi Barat untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Maulid Salabose yang digelar setiap tahun ini telah lama menjadi simbol harmonisasi antara syiar Islam dan tradisi budaya lokal yang diwariskan turun-temurun.

Berbeda dari peringatan maulid pada umumnya, Salabose memiliki nilai historis tersendiri dalam penyebaran Islam di tanah Mandar. Kisah yang hidup di masyarakat menyebut peran Syech Abdul Mannan yang diuji oleh Raja Banggae untuk membuka keris pusaka sang raja dari sarungnya.

Kisah Syech Abdul Mannan dan Keris Raja Banggae

Berdasarkan riwayat yang berkembang, banyak ksatria dan pendekar telah mencoba membuka keris tersebut namun gagal. Atas izin Allah, Syech Abdul Mannan berhasil melakukannya, membuat Raja Banggae takjub dan akhirnya mengizinkan sekaligus mendukung penyebaran Islam di Majene.

Peristiwa itu menjadi fondasi historis mengapa Salabose kemudian tumbuh sebagai pusat tradisi keagamaan yang kental dengan nuansa adat. Hingga kini, pelaksanaan maulid selalu diwarnai sajian khas, lantunan doa dan salawat, serta semangat gotong royong yang memperkaya jalannya peringatan.

Kearifan Lokal Sibaliparriq dalam Bingkai Maulid

Nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW seperti kasih sayang, persaudaraan, dan kejujuran dinilai sangat dekat dengan karakter masyarakat Sulawesi Barat. Semangat sibaliparriq—saling membantu dan berbagi beban dalam kehidupan—menjadi cermin nyata bagaimana ajaran agama menyatu dengan adat istiadat setempat.

Akulturasi ini terlihat jelas ketika masyarakat bahu-membahu menyiapkan perayaan, menghidangkan kuliner khas, dan duduk bersama dalam majelis salawat. Agama tidak menghapus kebudayaan, melainkan memberikan arah agar kebudayaan senantiasa berada dalam koridor kebaikan.

Ruang Pendidikan Spiritual bagi Generasi Muda

Maulid Salabose sepatutnya tidak dipandang sekadar kegiatan seremonial tahunan. Tradisi ini adalah ruang pendidikan budaya dan spiritual bagi generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi.

Melalui peringatan ini, generasi penerus diajak memahami bahwa identitas daerah tidak terpisahkan dari nilai agama dan kebudayaan. Mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan memperbanyak salawat, tetapi juga menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Salabose, kita belajar bahwa Islam dan budaya lokal dapat berjalan beriringan. Kearifan lokal bukan penghalang kemajuan, melainkan kekuatan sosial dan spiritual untuk memperkuat persaudaraan, toleransi, dan kepedulian masyarakat.

Selamat memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Semoga kecintaan kepada Rasulullah SAW senantiasa tumbuh dalam hati dan menjadi jalan memperoleh syafaat beliau di yaumil akhir.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sorotanpena.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks