SULAWESI BARAT — Perbedaan cara pandang antara bukti administratif dan pembuktian fisik menjadi pangkal kericuhan. Andi Azwan berpegang pada dokumen penyetaraan yang telah diceklis atau ditandai sebagai "ada". Ia menolak anggapan bahwa ijazah Gibran tidak pernah ada.
"Saya tidak bisa berbohong ya. Kalau kita lihat di sini sudah dicontreng itu artinya secara hukum itu sudah faktanya ada," ujar Andi dalam program bertajuk 'Dari Ijazah Jokowi ke Sayembara Gibran, Ada Apa?' tersebut.
Roy Suryo Minta Bukti Fisik, Andi Azwan Naik Pitam
Roy Suryo tak menerima jawaban itu. Ia melontarkan pertanyaan kunci yang langsung memicu emosi Andi: apakah sang ketua umum pernah melihat langsung lembar asli ijazah yang diperdebatkan.
"Pernah lihat nggak? Pernah lihat dengan mata kepala sendiri nggak?" tanya Roy.
Pertanyaan tersebut sontak membuat Andi bereaksi keras. Ia meminta Roy untuk berhenti memotong penjelasannya dan menegaskan posisinya sebagai narasumber yang sedang memaparkan fakta hukum.
"Udah congor lu diam aja, gua jelasin," ujar Andi dengan nada tinggi.
Pemicu Awal: Klaim Mercy Sihombing soal Dokumen Penyetaraan
Peristiwa ini bermula dari pemaparan Mercy Sihombing yang mempertanyakan keberadaan fisik ijazah Gibran. Menurut Mercy, meski kolom dalam dokumen penyetaraan telah ditandai, hal itu tidak serta-merta menjawab di mana dan bagaimana bentuk asli ijazah tersebut. Isu ini menjadi sensitif karena menyangkut syarat administrasi calon wakil presiden yang kini menjabat.
Debat tersebut memperlihatkan betapa isu ini masih menjadi bahan perbincangan hangat di publik. Berbagai pihak sebelumnya juga telah melontarkan kritik, termasuk akademisi Ade Armando yang menilai sayembara berburu ijazah Gibran sebagai upaya untuk menjatuhkan keluarga Jokowi menjelang Pemilu 2029.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Gibran atau Sekretariat Wakil Presiden terkait perdebatan yang berlangsung di layar kaca tersebut. Tak ada pula kepastian apakah dokumen fisik ijazah akan dihadirkan untuk mengakhiri spekulasi yang terus bergulir di ruang publik.