SULAWESI BARAT — Data perdagangan menunjukkan kurs rupiah bertahan di posisi Rp17.748 per dolar AS saat pembukaan pasar spot, Jumat (16/8). Angka ini persis sama dengan level penutupan perdagangan hari sebelumnya, mencerminkan tekanan beli dan jual yang berimbang di pasar valuta asing domestik.
Penguatan yang terjadi pada Kamis kemarin sempat membawa rupiah menanjak dari level Rp17.840 menjadi Rp17.748 per dolar AS. Penguatan tersebut tidak berlanjut pada pagi ini karena investor cenderung menahan diri menjelang rilis data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral AS pekan depan.
Koreksi Tipis di Awal Sesi, Sentimen Eksternal Masih Dominan
Meski dibuka datar, pergerakan rupiah pada awal sesi sempat menunjukkan fluktuasi tipis. Namun, perbedaan tersebut tidak signifikan dan kembali ke titik impas. Kondisi ini berbeda dengan perdagangan Kamis pagi yang mencatatkan penguatan 30 poin atau 0,17 persen, membawa rupiah ke posisi Rp17.810 per dolar AS.
Pasar masih mencerna data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pekan ini. Angka tersebut menjadi penentu utama apakah The Fed akan memangkas suku bunga lebih agresif atau justru mempertahankan sikap hawkish. Dampaknya langsung terasa di pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Sentimen eksternal memang masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan nilai tukar. Minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat pergerakan rupiah sangat bergantung pada arah indeks dolar AS di pasar global.
JISDOR Ikut Menguat, Fundamental Domestik Stabil
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) mencatatkan penguatan. JISDOR berada di level Rp17.779 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di angka Rp17.844 per dolar AS.
Data ini menunjukkan bahwa secara fundamental, tekanan terhadap rupiah sedikit mereda. Bank Indonesia sendiri dipandang masih konsisten menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi ganda di pasar spot dan Surat Berharga Negara (SBN) domestik.
Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Para pelaku pasar memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang yang sempit dengan kecenderungan menguat tipis apabila data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis malam nanti menunjukkan hasil yang lemah. Hal ini akan memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September mendatang.
Di sisi lain, permintaan dolar AS dari korporasi untuk pembayaran dividen dan impor masih tetap ada, sehingga membatasi ruang penguatan rupiah lebih lanjut. Para analis menyarankan investor untuk mencermati pergerakan yield obligasi AS sebagai indikator utama pergerakan kurs pekan depan.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar global dan domestik.