SULAWESI BARAT — Kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Sucofindo akan memegang peran penting sebagai pemberi jaminan kualitas (assurance) di sepanjang siklus hidup proyek, mulai dari tahap pembangunan, operasional, hingga pemeliharaan fasilitas.
Direktur Utama Sucofindo Sandry Pasambuna menegaskan bahwa keberhasilan proyek WTE di Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang dipakai. Ada sejumlah variabel krusial lain yang kerap luput dari perhatian.
"Kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas desain dan konstruksi, kesiapan operasional, keandalan aset, pengendalian emisi, serta pengelolaan residu merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan secara menyeluruh," ujarnya di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Peran Sucofindo: Menjamin Kualitas Hingga Keandalan Aset
Dalam skema kerja sama ini, Sucofindo bertindak sebagai perusahaan Testing, Inspection, and Certification (TIC). Peran ini memastikan setiap tahapan proyek memenuhi aspek kualitas, keselamatan, keandalan, serta persyaratan teknis dan lingkungan yang berlaku di Indonesia.
Sandry menambahkan, kolaborasi lintas negara ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk mendukung pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara global. Dengan pengembangan WTE yang tepat, pengelolaan sampah tidak lagi menjadi beban, melainkan bagian dari transisi menuju ekosistem yang lebih berkelanjutan.
"Kami percaya bahwa melalui kolaborasi erat lintas negara, didukung oleh kapabilitas Sucofindo sebagai perusahaan TIC, upaya untuk mendukung pencapaian Net Zero Emission secara global dapat diwujudkan secara bertahap dan berkelanjutan," tegas Sandry.
Potensi Saling Melengkapi: China Bawa Teknologi, Indonesia Siapkan Pasar
Dari sisi mitra, President Director HCETS Zhou Yitian menyebut Indonesia dan China memiliki potensi yang sangat kuat untuk saling melengkapi. China unggul dalam sumber daya industri dan kapabilitas teknologi, sementara Indonesia memiliki kebutuhan pasar yang besar.
Penandatanganan MoU ini menjadi langkah penting bagi HCETS untuk memperkuat pengembangan internasionalnya. Perusahaan asal China itu juga berencana mendorong perluasan keahlian industri pengelolaan sampah padatnya ke tingkat global.
"Kerja sama ini juga mencerminkan langkah proaktif China dan Indonesia dalam memanfaatkan keunggulan industri yang saling melengkapi serta bersama-sama mengeksplorasi berbagai peluang dalam pengembangan pengolahan sampah padat," kata Zhou Yitian.
Arah Kolaborasi ke Depan: Teknologi Cerdas dan Pengembangan Talenta
Ke depan, HCETS akan mengoptimalkan keunggulannya dalam bidang teknologi, manajemen proyek, serta penerapan teknologi cerdas di sektor pengelolaan sampah padat. Kolaborasi dengan Sucofindo dan mitra industri terkait akan diperdalam di berbagai bidang strategis.
Area yang menjadi fokus antara lain teknologi, pengembangan talenta, standardisasi, hingga eksekusi proyek. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat realisasi pembangunan dan pengoperasian Waste-to-Energy Power Plant atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Indonesia.
Dengan populasi perkotaan yang terus bertumbuh, tekanan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA) semakin besar. Kolaborasi ini menjadi salah satu jawaban konkret untuk mengurangi beban tersebut, sekaligus menciptakan sumber energi baru yang lebih ramah lingkungan.