SULAWESI BARAT — Microsoft menawarkan program pesangon sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan, atau 27 persen dari total 223.000 tenaga kerjanya, sebagai upaya menekan biaya di tengah lonjakan belanja infrastruktur AI. Tawaran menyasar pekerja di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan India, dengan paket hingga 12 bulan gaji bagi level tertentu. Langkah ini jadi sinyal bagaimana raksasa teknologi menyeimbangkan ekspansi AI dengan efisiensi organisasi.
Amy Coleman, Chief People Officer Microsoft, menyebut program ini sebagai pilihan bagi karyawan yang memenuhi syarat untuk bertransisi dengan dukungan penuh dari perusahaan. Tawaran menyasar sekitar 27 persen dari 223.000 pegawai Microsoft di seluruh dunia.
Empat negara jadi fokus utama: Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan India. Program ini tidak berlaku menyeluruh—karyawan di divisi data center, penjualan, dan pemasaran tidak masuk cakupan, menurut laporan Bloomberg.
Mengapa Microsoft Membuka Opsi Keluar Sukarela
Lonjakan belanja modal jadi pemicu utama. Pada 2021, setahun sebelum ChatGPT dirilis, Microsoft menggelontorkan USD 21 miliar untuk belanja modal. Angka itu diproyeksikan membengkak menjadi USD 190 miliar pada 2026—naik hampir sembilan kali lipat.
Perusahaan juga menargetkan kapasitas data center berlipat tiga. Kombinasi ekspansi infrastruktur AI dan beban operasional membuat Microsoft mencari cara mengurangi staf tanpa harus melakukan PHK massal.
Besaran Pesangon: 39 Minggu hingga 12 Bulan Gaji
Program ini memakai standar pesangon perusahaan. Untuk karyawan level 67 ke bawah, batas maksimalnya 39 minggu gaji pokok. Sementara karyawan level 68 mendapat paket standar 12 bulan gaji.
Selain uang pesangon, karyawan yang mengambil opsi ini tetap mendapat keberlanjutan hak kepemilikan saham rutin selama enam atau 12 bulan—bergantung masa kerja—serta perlindungan asuransi kesehatan. Skema ini mengikuti laporan Business Insider.
Bukan Program Pertama di 2026
Awal tahun ini, Microsoft sudah menjalankan program serupa dengan skala lebih kecil. Pada April, perusahaan menawarkan pensiun dini khusus bagi karyawan dengan gabungan usia dan masa kerja minimal 70 tahun.
Pola ini menunjukkan Microsoft bergerak bertahap: dimulai dari segmen paling senior, lalu diperluas ke basis karyawan yang lebih luas.
Perkiraan Partisipasi Hanya 3–5 Persen
Meski puluhan ribu karyawan memenuhi syarat, New York Times melaporkan Microsoft memperkirakan hanya sebagian kecil yang mengambil tawaran. Di industri teknologi, tingkat penerimaan program semacam ini biasanya berkisar 3 hingga 5 persen.
Artinya, dampak riil ke pengurangan headcount bisa jauh lebih kecil dari angka 60.000 yang ditawarkan. Perusahaan tampaknya sudah menghitung skenario ini sejak awal.
Pandangan Pakar Ketenagakerjaan
Domenique Camacho Moran, pakar hukum ketenagakerjaan, menyebut skema ini sebagai cara perusahaan mengurangi karyawan tanpa PHK massal. Menurutnya, opsi keluar sukarela memberi ruang bagi pengusaha untuk mengurangi staf tanpa menempelkan label kinerja buruk pada karyawan.
Pengacara ketenagakerjaan Peter Rahbar menambahkan bahwa keputusan yang berada di tangan karyawan membuat proses ini terasa lebih ringan dibanding PHK. "Orang-orang merasa lebih baik jika bisa keluar atas keputusan mereka sendiri," ujarnya.
Bagi pasar tenaga kerja teknologi global, program pensiun dini Microsoft menjadi indikator arah: investasi AI yang masif mulai diimbangi dengan pengetatan struktur biaya. Perusahaan lain dengan profil belanja modal serupa kemungkinan mengikuti langkah yang sama.