SULAWESI BARAT — Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan terus mencari inovasi untuk mempercepat pembangunan rumah bagi masyarakat, salah satunya dengan menyerap pengalaman dari negara lain seperti China, India, dan Mesir. Ketiga negara itu dinilai berhasil menyediakan hunian dalam jumlah besar bagi warganya dalam waktu relatif singkat.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri akad massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). Menurut dia, kebutuhan rumah di Indonesia masih jauh lebih besar dari capaian yang ada saat ini.
Kebutuhan Rumah Masih Jauh dari Capaian
Prabowo mengakui capaian program pembangunan rumah yang berjalan selama ini sudah signifikan. Namun, ia menegaskan angka tersebut belum cukup untuk menutup kekurangan pasokan hunian yang terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk.
“Prestasi yang sudah kita capai sungguh signifikan. Namun, kita menyadari bahwa masih jauh lebih banyak lagi yang diperlukan oleh rakyat kita,” ujar Prabowo dalam sambutannya di hadapan peserta akad massal.
China, India, dan Mesir Jadi Rujukan Studi
Pemerintah tidak menutup diri terhadap praktik terbaik dari negara lain. China disebut memiliki pengalaman panjang dalam membangun kota-kota baru dengan hunian vertikal berskala raksasa, sementara India dan Mesir dinilai berhasil mengembangkan skema pembiayaan dan konstruksi yang mampu menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya mencari cara-cara yang lebih efektif dan efisien dalam penyediaan rumah. Pemerintah menilai pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk mengejar ketertinggalan yang ada.
Akad Massal KPR FLPP di Batang
Acara akad massal yang dihadiri Prabowo tersebut merupakan bagian dari realisasi penyaluran KPR FLPP kepada masyarakat. Program ini menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam membantu masyarakat memiliki rumah dengan skema pembiayaan yang lebih ringan.
Kehadiran Prabowo dalam acara itu sekaligus menegaskan prioritas pemerintah pada sektor perumahan. Selain menjadi kebutuhan dasar, pembangunan rumah juga dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal karena melibatkan banyak sektor pendukung seperti material bangunan, tenaga kerja, dan jasa konstruksi.
Tidak dijelaskan secara rinci mekanisme apa saja yang akan diadopsi dari China, India, dan Mesir. Namun, sinyal untuk membuka diri terhadap inovasi asing ini menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam kebijakan perumahan nasional ke depan.