SULAWESI BARAT — Gempa tektonik itu terjadi sekitar pukul 09.30 WITA, menurut data sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pusat gempa berada di laut, sekitar 25 kilometer tenggara Palu, dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami.
Warga Berlarian ke Titik Ketinggian
Di pusat kota, warga yang baru memulai aktivitas langsung meninggalkan kantor dan pusat perbelanjaan. Sejumlah rekaman amatir yang beredar menunjukkan kerumunan orang berlari menuju area terbuka, termasuk ke arah perbukitan di sekitar Teluk Palu. “Saya langsung lari bawa anak. Takut ada tsunami susulan,” ujar Maya, warga Kelurahan Lolu, kepada penyiar radio lokal.
Petugas kepolisian dan TNI langsung dikerahkan ke lapangan untuk mengarahkan lalu lintas dan mencegah kepanikan yang lebih luas. Beberapa ruas jalan utama sempat mengalami kemacetan akibat arus kendaraan yang keluar dari kawasan padat penduduk.
Bangunan dan Infrastruktur Terdampak
Laporan awal dari Dinas Pemadam Kebakaran Palu menyebutkan setidaknya tiga rumah dan satu ruko mengalami retak di bagian dinding. Sebuah jembatan penghubung di Kecamatan Palu Barat juga dilaporkan mengalami pergeseran, namun masih bisa dilalui kendaraan roda dua.
Proses evakuasi mandiri masih berlangsung hingga siang hari. Warga diimbau untuk tidak kembali ke dalam bangunan sebelum dinyatakan aman oleh tim ahli dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Riwayat Gempa dan Kesiapsiagaan
Palu merupakan wilayah yang rawan gempa karena berada di zona Sesar Palu-Koro. Gempa besar tahun 2018 yang memicu likuifaksi dan tsunami menjadi pengalaman traumatis bagi warga. “Kami sudah punya SOP evakuasi sejak 2018. Hari ini semua bergerak cepat,” kata Kepala BPBD Sulawesi Tengah, yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
BMKG terus memantau aktivitas seismik dan memperingatkan kemungkinan gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak termakan informasi hoaks yang beredar di media sosial.