SULAWESI BARAT — Analis pasar Ampere Analysis merilis kajian pada 17 Agustus lalu yang mengupas skenario harga konsol next-gen sebesar USD 1.000. Hasilnya, jika PS6 dan Project Helix (kode nama Xbox generasi baru) dirilis pada 2028 dengan harga segitu, penjualan lima tahun pertama diprediksi 38 persen lebih rendah dibanding capaian PS5 dan Xbox Series X|S di periode yang sama.
Skema harga tersebut dinilai bakal memperlambat adopsi konsol secara masif. Alih-alih langsung laku keras, gamer justru akan menahan diri dan bertahan di generasi sekarang lebih lama.
Kenapa Harga USD 1.000 Bisa Terjadi?
Kenaikan harga komponen dan kelangkaan chip yang berkepanjangan membuat biaya produksi konsol meroket. Dalam beberapa bulan terakhir, Nintendo Switch 2, PS5, dan Xbox Series X|S sudah mengalami beberapa kali penyesuaian harga di berbagai region.
Steam Machine juga sudah lebih dulu menyentuh angka di atas USD 1.000. Kondisi ini membuat skenario konsol seharga Rp 16 jutaan bukan lagi sekadar spekulasi liar.
Tiga Jalan Keluar Agar PS6 dan Xbox Berikutnya Tidak Mahal
Ampere Analysis memberikan tiga opsi yang bisa diambil Microsoft dan Sony untuk menghindari bencana harga tersebut.
Opsi pertama, tunda peluncuran generasi berikutnya melewati 2028. Dengan memperpanjang siklus hidup PS5 dan Xbox Series X|S, kedua vendor punya waktu memantau situasi pasokan chip hingga stabil.
Opsi kedua, tetap rilis di 2028 tapi menekan harga lewat subsidi hardware yang lebih agresif, model monetisasi baru, strategi konten digital yang lebih gencar, serta optimalisasi kanal penjualan. Biaya produksi yang mahal bisa ditutup dari pendapatan jangka panjang, bukan dari margin penjualan unit.
Opsi ketiga, berhenti mengejar peningkatan grafis inkremental dan fokus pada inovasi bentuk serta fungsi. Alih-alih sekadar lebih kencang, konsol generasi baru harus benar-benar berbeda secara pengalaman bermain—mirip pendekatan Nintendo dengan Wii dulu.
Dampak ke Pasar Konsol Global
Jika ketiga opsi itu diabaikan dan harga USD 1.000 tetap dipaksakan, pasar game konsol dan layanannya akan kehilangan USD 3,4 miliar pada 2031. Angka itu berasal dari lambatnya pertumbuhan basis pengguna yang akhirnya menekan penjualan game, langganan, dan mikrotransaksi.
Bagi gamer Indonesia, skenario ini berarti keputusan upgrade ke generasi berikutnya akan semakin berat. Dengan harga yang setara gaji bulanan pekerja entry-level, konsol bukan lagi barang yang bisa dibeli impulsif—apalagi jika tidak ada terobosan fitur yang benar-benar baru.
Ampere Analysis menegaskan bahwa langkah paling rasional bagi Sony dan Microsoft adalah menahan diri dari harga ekstrem. Kalau tidak, konsol gaming bakal kehilangan daya tariknya sebagai platform hiburan massal.