Pencarian

Menelusuri 6 Desa Wisata di Sulawesi Barat yang Kaya Edukasi dan Budaya

Jumat, 14 Agustus 2026 • 12:07:22 WIB
Menelusuri 6 Desa Wisata di Sulawesi Barat yang Kaya Edukasi dan Budaya
Menelusuri 6 Desa Wisata di Sulawesi Barat yang Kaya Edukasi dan Budaya

"Desa wisata memiliki daya tarik tersendiri karena perjalanan tidak hanya berfokus pada pemandangan. Pengunjung dapat mengenal tradisi, mencicipi makanan lokal, melihat aktivitas masyarakat, mengikuti kegiatan berbasis alam, hingga membeli produk buatan warga. Pola wisata semacam ini juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat desa," demikian gambaran umum yang menjadi pegangan bagi para pelancong yang ingin merasakan nuansa otentik Sulawesi Barat.

SULAWESI BARAT - Provinsi ini menyimpan banyak destinasi yang layak dijelajahi, terutama desa wisata yang menawarkan perpaduan antara alam, budaya, dan aktivitas edukatif. Bagi pencinta perjalanan yang mendambakan suasana berbeda dari objek wisata populer, desa-desa wisata ini menjadi pilihan tepat karena pengalamannya lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Karakter geografis Sulawesi Barat dinilai mendukung perkembangan desa wisata. Kawasan pesisir Polewali Mandar memiliki pantai dan ekosistem mangrove, sementara Mamasa menawarkan lanskap pegunungan, rumah tradisional, pertanian, serta beragam kesenian lokal. Berikut enam desa yang menarik untuk dimasukkan dalam rencana perjalanan.

1. Desa Wisata Laliko, Pesona Pantai dan Hutan Mangrove

Desa Wisata Laliko berada di Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. Desa ini memiliki dua daya tarik utama, yakni Pantai Labuang dan kawasan Gonda Mangrove. Pantai Labuang menawarkan suasana pesisir dengan pasir dan perairan yang menarik untuk dinikmati. Sementara itu, Gonda Mangrove memberikan pengalaman yang berbeda karena wisatawan dapat menjelajahi kawasan hutan bakau dan mengamati keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya.

Data Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat aktivitas seperti susur hutan mangrove, keliling desa, serta atraksi perahu sandeq mini sebagai bagian dari pengalaman wisata di Laliko. Potensi edukasi mangrove di kawasan Gonda juga telah menjadi perhatian dalam penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat. Ekosistem tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga memiliki nilai konservasi dan dapat menjadi sarana pembelajaran mengenai lingkungan pesisir.

Menariknya, pengalaman di Laliko tidak berhenti pada wisata alam. Kehidupan masyarakat pesisir dan budaya Mandar menjadi bagian dari karakter desa. Produk seperti kain tenun sutra Mandar serta miniatur perahu sandeq juga dapat ditemukan sebagai bagian dari produk wisata. Bagi wisatawan yang menyukai perjalanan dengan nuansa alam sekaligus edukasi lingkungan, Laliko menjadi salah satu pilihan yang cukup lengkap.

2. Desa Wisata Bulo, Menikmati Panorama Pegunungan

Desa Wisata Bulo berada di Kabupaten Polewali Mandar dan dikenal dengan potensi agrowisata serta panorama pegunungan. Salah satu daya tarik yang berkembang di desa ini adalah kawasan Kebun Raya Bulo. Kawasan tersebut memberikan pengalaman wisata yang berbeda karena perjalanan dapat dikombinasikan dengan kegiatan menikmati pemandangan, mengenal lingkungan pertanian, dan melakukan aktivitas luar ruangan.

Jejaring Desa Wisata mencatat Wisata Agro Kebun Raya Bulo sebagai salah satu atraksi yang tersedia di desa tersebut, lengkap dengan fasilitas dasar seperti tempat makan, toilet, musala, area swafoto, serta persewaan peralatan. Bulo juga dikenal melalui sejumlah titik panorama yang berada di kawasan perbukitan. Sebutan seperti "negeri di atas awan" muncul karena kondisi geografis dan pemandangan kabut yang dapat terlihat dari kawasan ketinggian pada waktu tertentu.

Daya tariknya semakin kuat bagi pencinta kegiatan luar ruangan. Trekking, berkemah, menikmati matahari terbit, dan mengamati lanskap pertanian dapat menjadi bagian dari perjalanan. Selain alam, hasil pertanian masyarakat juga menjadi bagian penting dari identitas Bulo. Hal ini membuat kunjungan ke desa terasa lebih bermakna karena wisatawan dapat melihat hubungan antara aktivitas ekonomi warga dan lingkungan yang menjadi daya tarik wisata.

3. Desa Wisata Balla Tumuka', Perkampungan Tradisional Mamasa

Balla Tumuka' merupakan desa wisata yang berada di Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa. Desa ini menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin memahami budaya masyarakat Mamasa sekaligus menikmati udara pegunungan. Salah satu ciri paling menonjol adalah Banua Longa, yaitu deretan rumah tradisional yang menjadi identitas kuat desa.

Jejaring Desa Wisata menyebut kawasan tersebut sebagai kampung tradisional terpanjang di dunia. Selain rumah tradisional, Balla Tumuka' juga memiliki pemandangan Buntu Mussa, kawasan Buntu Liarra yang dikenal dengan panorama negeri di atas awan, serta Air Terjun Allodio. Kekayaan budaya menjadi alasan lain untuk berkunjung. Desa ini memiliki berbagai kesenian tradisional seperti Tari Mangnganda', Bulu Londong, Malluya, Alu-alu, dan Bilolo. Musik tradisional seperti Pompang dan Katapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya setempat.

Pengalaman wisata dapat dilengkapi dengan mencoba produk lokal. Doda', misalnya, merupakan makanan berbahan beras ketan yang dimasak secara tradisional menggunakan bambu dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat ketika pesta panen. Untuk pencinta alam, tersedia pula aktivitas camping di kawasan Buntu Mussa dan Buntu Liarra.

4. Desa Wisata Tondok Bakaru, Pusat Edukasi Anggrek Mamasa

Tondok Bakaru berada di Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, tepat di kaki Gunung Mambulilling. Lokasinya relatif dekat dengan pusat Kabupaten Mamasa sehingga aksesnya menjadi salah satu keunggulan desa wisata ini. Daya tarik yang paling menonjol adalah budidaya anggrek endemik Mamasa. Masyarakat mengembangkan kegiatan tersebut melalui komunitas pembudidaya sehingga wisatawan dapat mengenal proses perawatan tanaman sekaligus melihat koleksi anggrek yang dibudidayakan.

Data Jejaring Desa Wisata mencatat adanya kawasan edukasi anggrek yang memungkinkan pengunjung mempelajari pembibitan melalui kultur jaringan hingga proses aklimatisasi. Kawasan tersebut juga memiliki berbagai tanaman hias, termasuk anggrek dan tanaman Hoya. Bukan hanya anggrek, Tondok Bakaru memiliki hutan pinus Bukit Lenong, kawasan persawahan, rumah adat Mamasa, serta berbagai aktivitas berbasis pertanian. Terdapat pula wisata edukasi tanaman Hoya endemik Mamasa yang memungkinkan pengunjung mengenal dan mempelajari tanaman tersebut secara lebih dekat.

Pilihan akomodasi juga relatif beragam. Data resmi desa wisata mencatat sejumlah homestay dan villa, termasuk pilihan penginapan di tengah persawahan. Dengan kombinasi alam, pertanian, budaya, dan edukasi tanaman, Tondok Bakaru cocok untuk perjalanan yang tidak sekadar mengejar foto.

5. Desa Wisata Marangda' Tambung dan Pantai Beringin Cinta

Bagi pencinta wisata pesisir, Desa Wisata Marangda' Tambung dan Pantai Beringin Cinta di Kabupaten Mamuju menawarkan suasana yang berbeda. Kawasan ini berada di Desa Bonda, Kecamatan Papalang. Pantai Beringin Cinta atau Pantai Bercinta menjadi daya tarik utama. Lokasinya berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Mamuju dan dapat diakses melalui jalan provinsi, kemudian dilanjutkan sekitar 3,5 kilometer menuju pantai. Data resmi Jejaring Desa Wisata menyebut akses menuju kawasan pantai dapat dilalui berbagai jenis kendaraan.

Keindahan pantai menjadi semakin menarik karena perjalanan dapat disertai pengalaman kuliner khas Mamuju. Bau piapi dan jepa merupakan contoh makanan lokal yang dapat dicicipi. Produk UMKM seperti abon ikan bandeng, amplang, keripik, sambal penja, minyak kelapa, dan VCO juga menjadi pilihan buah tangan. Bagi wisatawan yang menyukai aktivitas sederhana, kawasan ini menawarkan kegiatan seperti memancing dan aktivitas pantai. Pengembangan wisata bahari juga terus diarahkan untuk memperkuat daya tarik kawasan. Keberadaan produk kuliner dan kerajinan masyarakat membuat kunjungan ke Marangda' Tambung tidak hanya memberikan pengalaman rekreasi, tetapi juga kesempatan mengenal potensi ekonomi desa.

6. Desa Wisata Pappandangan, Liburan Keluarga di Tengah Alam

Desa Wisata Pappandangan terletak di Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar. Desa ini menawarkan suasana pedesaan yang relatif tenang dengan lanskap alam dan aktivitas masyarakat yang masih berkaitan erat dengan sektor pertanian. Salah satu daya tarik utamanya adalah Kandang Pappandangan. Kawasan ini memiliki aliran sungai sebagai daya tarik utama dan menjadi tempat yang cukup ramah untuk berbagai kelompok usia. Data Jejaring Desa Wisata mencatat fasilitas seperti area parkir, tempat makan, kamar mandi umum, musala, area swafoto, hingga ruang pertemuan.

Pappandangan juga memiliki potensi pertanian kakao. Kondisi tersebut memberikan peluang untuk mengembangkan wisata berbasis pengalaman pedesaan, terutama bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat dan aktivitas pertanian. Meski fasilitas penginapan dan paket wisata di desa ini masih terbatas, Pappandangan terus dikembangkan. Desa ini tercatat sebagai 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 dan saat ini masuk kategori rintisan dalam data Jejaring Desa Wisata.

Tips Menikmati Wisata Desa di Sulawesi Barat

Wisata desa membutuhkan cara menikmati yang sedikit berbeda dari kunjungan ke objek wisata komersial. Waktu perjalanan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca dan karakter destinasi. Kawasan pegunungan seperti Mamasa dapat memiliki suhu lebih sejuk, sementara destinasi pesisir membutuhkan perlindungan dari paparan matahari.

Menghormati adat setempat juga menjadi bagian penting dari perjalanan. Sebelum memasuki rumah adat atau mengikuti kegiatan budaya, sebaiknya meminta izin kepada pengelola maupun masyarakat setempat. Penggunaan kamera juga perlu memperhatikan kenyamanan warga, terutama ketika mengabadikan kegiatan adat atau aktivitas sehari-hari.

Dukungan terhadap ekonomi lokal dapat dilakukan dengan membeli kuliner, kerajinan, produk pertanian, atau suvenir yang dibuat masyarakat. Cara sederhana tersebut membantu agar manfaat pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh warga desa.

Enam destinasi tersebut memperlihatkan bahwa Sulawesi Barat memiliki kekayaan wisata yang jauh lebih beragam daripada sekadar pantai dan pegunungan. Laliko menawarkan ekowisata mangrove, Bulo menghadirkan agrowisata dan panorama ketinggian, Balla Tumuka' menyimpan kekayaan budaya Mamasa, Tondok Bakaru kuat dengan edukasi anggrek, Marangda' Tambung menghadirkan wisata pesisir, sedangkan Pappandangan cocok untuk menikmati suasana alam bersama keluarga.

Dengan menggabungkan keindahan alam, tradisi, kuliner, serta aktivitas masyarakat, perjalanan ke desa wisata terbaik di Sulawesi Barat dapat menjadi pengalaman liburan yang sekaligus memberikan wawasan baru dan mendukung perkembangan ekonomi lokal.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks