Pencarian

6 Proyek Film Arab Dipresentasikan di Pitching Platform Sharjah Film Festival

Jumat, 30 Oktober 2026 • 21:47:01 WIB
6 Proyek Film Arab Dipresentasikan di Pitching Platform Sharjah Film Festival
Enam proyek film pendek sineas Arab terpilih mengikuti sesi pitching di Sharjah International Film Festival edisi ke-13.

SULAWESI BARAT — Festival Film Internasional Sharjah untuk Anak dan Remaja edisi ke-13 memperluas platform pitching-nya dengan menyeleksi enam proyek film pendek, naik dari tiga proyek pada penyelenggaraan perdana. Perluasan ini menjadi jalur bagi sineas emerging Arab untuk mendapatkan pendanaan dan mitra produksi di luar sesi pelatihan dan pameran. Sejumlah proyek telah masuk tahap produksi maupun pascaproduksi dengan target penyelesaian hingga 2027.

Enam proyek film pendek dari sineas Arab dan diaspora terpilih untuk mengikuti sesi pitching di Sharjah International Film Festival (SIFF) edisi ke-13. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dibandingkan program perdana yang hanya menerima tiga proyek.

Langkah perluasan diambil karena festival ingin membangun jalur karier sineas muda, bukan sekadar memberi pelatihan dan ruang pameran. Tujuan utama sesi pitching tahun ini adalah mempertemukan pembuat film dengan sumber pendanaan serta mitra produksi dari Sharjah dan kawasan lain.

Alasan Festival Memperluas Platform Pitching

Direktur festival Sheikha Jawaher bint Abdullah Al Qasimi menyatakan bahwa kemampuan membuat film hanya separuh dari persoalan. Menurut dia, tantangan sesungguhnya justru muncul setelah film selesai digarap.

"Belajar cara membuat film hanyalah sebagian dari persamaan. Membuat film itu diproduksi dan ditonton adalah tantangan yang sepenuhnya berbeda," kata Sheikha Jawaher kepada Variety menjelang edisi tahun ini.

Pernyataan itu menjelaskan arah program: peserta tidak hanya dibekali keterampilan bercerita, tetapi juga didorong menyiapkan strategi produksi dan distribusi sejak tahap awal.

The Black Hole: Trauma Palestina dalam Tiga Film Pendek

Sineas Palestina-Amerika Mike Mo Elsherif membawa "The Black Hole", kisah seorang pengungsi Gaza di Amerika Serikat yang mengalami penyakit misterius saat mencari kabar keluarganya di Gaza. Proyek ini diproduseri JohnBen Lacy.

Elsherif menyebut filmnya sebagai eksplorasi atas cara tubuh menyimpan dan memproses trauma. "The Black Hole" merupakan bagian dari trilogi film pendek bersama "Maqluba" dan "Goodbye Habibi".

"Maqluba" tayang di kompetisi film pendek Arab SIFF setelah melewati Woodstock, BlackStar, dan El Gouna. Sementara "Goodbye Habibi" masih dalam tahap pascaproduksi dengan dukungan FilmLab Palestine, Islamic Scholarship Fund, Doha Film Institute, dan Kentucky Arts Council.

Proyek "The Black Hole" kini berada di tahap pendanaan dan dikembangkan lewat The Front Porch Lab serta The New Harmony Project. Sebagian dana telah terkumpul dari sumber privat, dan tim mencari tambahan pendanaan di Sharjah sebelum syuting musim dingin 2027 di Louisville, Kentucky.

Kot Kot Kot: Cerita Masa Kecil yang Dihidupkan Kembali

Sutradara asal Uni Emirat Arab Boubaker Boukhari menggarap "Kot Kot Kot" tentang seorang gadis kecil yang kehilangan ibunya. Sang ayah memberinya seekor anak ayam yang ia rawat hingga besar, sebelum suatu hari ayam itu menghilang.

Kisah ini berasal dari cerita ibu Boukhari semasa kecil yang sempat ia lupakan, lalu diceritakan kembali oleh keponakannya dalam sebuah acara keluarga. "Emosi dan rasa takjub dalam suaranya membuat saya sadar ini cerita yang layak dituturkan lagi," ujar Boukhari.

Proyek ini telah selesai produksi dengan pendanaan mandiri dan kini mencari dana untuk pascaproduksi, khususnya musik, desain suara, efek suara, dan perekaman suara. Boukhari menggandeng koproduser Tunisia Alaeddin Abou Taleb dari Key Production Films, yang terlibat dalam film stop-motion "Diaspora" peraih Tanit d'Or di Carthage Film Festival.

Ilustrator Nadia Zilanova, yang pernah mengerjakan komisi untuk New York Times dan sejumlah penerbit, bergabung untuk membuat serta mewarnai latar film dengan gaya visual khas. Target penyelesaian akhir 2026.

The Last Call: Tentang Hal yang Tak Terucap

Sineas berbasis UEA Saleh Mohammed menyiapkan "The Last Call", berawal dari panggilan telepon tak terduga dari nomor yang terhubung dengan memori terlupakan. Protagonisnya kemudian menjalani perjalanan emosional melewati masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab.

Mohammed menyebut filmnya membahas hal-hal yang tak sempat diucapkan dan momen yang baru disadari nilainya setelah hilang. Pendekatan visualnya dibuat tertahan agar satu momen bisa terasa mengubah hidup seseorang.

Naskah telah rampung dan proyek masuk tahap praproduksi, dengan pencarian lokasi berjalan serta casting dan penyusunan kru sebagai langkah berikutnya. Mohammed mencari pendanaan, sponsor, calon koproduser, dan mitra industri.

Ia juga memanfaatkan SIFF untuk membangun relasi dengan festival dan distributor sebelum film dirilis. Sebelumnya, Mohammed berkarier sebagai aktor dan sutradara teater, serta ikut membintangi "The Mangrove House" karya Khalid Al Mahmood yang menjadi film pembuka festival tahun ini.

Lucky Shot dan Proyek Lainnya

Sineas Oman Salah Al Hadhrami membawa "Lucky Shot" dengan penulis naskah Dalila Al-Dar'iya. Film ini mengikuti Amjad, bocah dari kawasan kelas pekerja yang besar dengan gairah pada sepak bola.

Selain empat proyek tersebut, dua proyek lain melengkapi daftar peserta pitching tahun ini. Keseluruhan program menempatkan SIFF sebagai titik temu antara talenta baru dunia Arab dan ekosistem produksi yang lebih luas.

Bagi industri film kawasan, perluasan platform pitching menandai pergeseran peran festival: dari ajang penayangan menjadi penghubung antara ide dan pendanaan produksi.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: variety.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks