Pencarian

Perjuangan 3 Tahun IVF Seo Dong-ju dan Cara Menata Hati Saat Gagal

Senin, 26 Oktober 2026 • 11:50:01 WIB
Perjuangan 3 Tahun IVF Seo Dong-ju dan Cara Menata Hati Saat Gagal
Pengacara dan penyiar asal Korea Selatan, Seo Dong-ju, membagikan pengalaman menjalani program bayi tabung selama tiga tahun melalui kanal YouTube miliknya.

SULAWESI BARAT — Seo Dong-ju, pengacara dan penyiar asal Korea Selatan, menghabiskan tiga tahun menjalani program bayi tabung tanpa hasil yang diharapkan. Dari pengalamannya, ada pelajaran penting soal tekanan emosional infertilitas dan cara perempuan Indonesia bisa menjaga kesehatan mental selama proses IVF.

Dua bulan berturut-turut, Seo Dong-ju menghadapi kondisi folikel kosong saat pengambilan sel telur. Kondisi itu membuat peluang pembuahan menyempit dan memicu rasa bersalah yang menumpuk selama tiga tahun berjuang lewat program in vitro fertilization (IVF).

Cerita itu ia bagikan lewat kanal YouTube miliknya, Tto.Do.Dong, seperti dikutip Chosun. Pengakuannya bukan sekadar kisah pribadi, tapi cermin yang akrab bagi banyak perempuan yang sedang berjuang hamil.

Apa yang Terjadi Saat Folikel Kosong Muncul Berulang

Folikel kosong berarti tidak ada sel telur yang berhasil diambil pada siklus tersebut. Bagi Seo, kejadian dua bulan beruntun itu terasa seperti pukulan karena waktu dan tenaga yang ia investasikan seolah tidak berbuah.

Ia mengaku sudah mengubah banyak hal: berhenti minum kopi, menjaga pola tidur, dan meninggalkan minuman bersoda kesukaannya. Semua dilakukan demi mendukung program hamil yang sedang dijalani.

Ketika hasilnya belum sesuai harapan, Seo mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Ia bahkan merasa bersalah kepada sang suami yang dinilainya ikut banyak berkorban.

Mengapa Rasa Bersalah Itu Tidak Selalu Akurat

Keberhasilan IVF tidak ditentukan oleh seberapa disiplin seseorang menjalani gaya hidup. Ada banyak faktor medis yang berperan, mulai dari usia, kondisi sel telur dan sperma, kualitas embrio, hingga penyebab infertilitas yang dialami pasangan.

Artinya, satu siklus yang gagal bukan bukti bahwa seorang perempuan kurang berusaha atau melakukan kesalahan. Memahami hal ini penting agar ibu tidak terus menghukum diri sendiri atas hasil yang di luar kendali.

Data soal Infertilitas dan Kesehatan Mental Perempuan

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis di jurnal BMJ Open (2022) menganalisis 32 penelitian dengan total 124.556 perempuan. Hasilnya, perempuan dengan infertilitas punya kemungkinan lebih tinggi mengalami tekanan psikologis dan depresi dibandingkan mereka yang tidak mengalami infertilitas.

Temuan itu menegaskan bahwa perjalanan mendapatkan keturunan menyentuh dua sisi sekaligus: fisik dan emosional. Tekanan bisa memuncak saat hasil pengobatan tidak sesuai harapan, saat peluang kehamilan kabur, atau saat rasa bersalah kepada pasangan muncul.

Meski begitu, pengalaman tiap perempuan berbeda. Tidak semua yang menjalani IVF akan mengalami gangguan kesehatan mental yang sama.

Kapan Sebaiknya Ibu Mencari Bantuan Profesional

Jika rasa sedih, cemas, atau bersalah mulai mengganggu tidur, nafsu makan, pekerjaan, dan hubungan dengan pasangan, itu tanda ibu perlu bicara dengan profesional. Psikolog atau konselor kesuburan bisa membantu mengurai beban emosional selama proses pengobatan.

Dukungan pasangan juga bukan hal kecil. Seo menyebut suami dan orang-orang terdekatnya menjadi sumber kekuatan saat ia merasa paling terpuruk.

Belajar Menata Hati Tanpa Menunggu Hasil

Di tengah perjalanan panjangnya, Seo mulai mengubah cara pandang. Ia menyadari bahwa terlepas dari apakah nantinya memiliki anak atau tidak, hidupnya sudah punya banyak hal yang membuatnya bahagia.

Kesadaran itu membantunya melihat kembali tiga tahun yang ia lalui dengan lebih lapang. Perjalanannya belum tentu berakhir sesuai harapan, tapi cara ia memandang dirinya sendiri sudah bergeser.

Bagi ibu yang sedang berjuang lewat IVF, kisah Seo mengingatkan satu hal: hasil medis bisa di luar kendali, tapi cara memperlakukan diri sendiri selama proses itu tetap bisa dipilih. Jangan ragu mencari dukungan emosional sejak awal, bukan hanya saat sudah lelah.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks