Pencarian

Target TKDN 80 Persen 2030, Pabrik BYD Subang Bukan Titik Akhir Investasi

Kamis, 03 September 2026 • 21:08:01 WIB
Target TKDN 80 Persen 2030, Pabrik BYD Subang Bukan Titik Akhir Investasi
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meninjau lini produksi pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

SULAWESI BARAT — Fasilitas produksi BYD di Subang kini resmi beroperasi. Namun Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pembangunan pabrik bukanlah tujuan akhir dari investasi pabrikan asal China tersebut.

“Investasi tidak berhenti hanya pada produksi, tetapi semakin meningkatkan komponen dan kapasitas struktur industri,” kata Agus dalam peresmian pabrik BYD di Subang, Kamis (3/9/2026).

Target Bertahap: 40 Persen pada 2026, 80 Persen pada 2030

Pemerintah menyusun target TKDN kendaraan listrik secara berjenjang. Pada 2026, angka yang dibidik adalah 40 persen. Kemudian naik ke 60 persen pada periode 2027–2029, dan berpuncak di 80 persen pada 2030.

Skema tersebut menempatkan pabrik BYD pada posisi yang lebih strategis ketimbang sekadar menambah kapasitas produksi. Semakin tinggi kandungan lokal, semakin besar pula peluang pemasok komponen domestik masuk ke rantai pasok kendaraan listrik nasional.

Agus menambahkan, ekosistem industri harus dibangun secara terintegrasi—mulai dari manufaktur komponen hingga perakitan kendaraan. Penguatan struktur itu dinilai penting mengingat pasar kendaraan listrik Indonesia tumbuh cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Posisi BYD di Pasar: Hampir 99.000 Unit Terjual

BYD memang sudah memiliki pijakan pasar yang solid sebelum pabrik lokalnya berdiri. Agus menyebut penjualan produk BYD di Indonesia sepanjang 2024–2026 mencapai hampir 99.000 unit.

Produk-produk yang dipasarkan selama ini juga sudah mengantongi TKDN di atas 40 persen. Namun pemerintah ingin capaian itu tidak berhenti di angka tersebut, terutama setelah produksi lokal dimulai.

Artinya, pabrik BYD kini menghadapi ujian yang berbeda: bukan hanya berapa banyak mobil yang bisa dihasilkan dari lini produksi Subang, melainkan seberapa jauh aktivitas tersebut mampu menarik industri lokal masuk ke dalam rantai pasok.

Dari Importir Menjadi Produsen: Apa yang Berubah?

Pada periode awal kehadirannya di Indonesia, BYD membangun pangsa pasar lewat unit yang didatangkan dari luar negeri. Kini, dengan pabrik yang beroperasi, hubungan BYD dengan industri domestik memasuki babak yang baru—dalam arti harfiah, bukan sekadar retorika.

Pemerintah melihat fasilitas produksi ini bisa menjadi pijakan untuk menjadikan Indonesia basis produksi kendaraan listrik kawasan, sekaligus membuka peluang ekspor. Namun manfaat ekonomi akan jauh lebih besar jika rantai pasok lokal ikut tumbuh.

Nilai tambah industri otomotif tidak hanya lahir dari proses perakitan. Keterlibatan pemasok komponen, pengembangan teknologi, dan peningkatan kemampuan manufaktur nasional justru menjadi penentu seberapa besar dampak ekonomi yang ditinggalkan sebuah investasi.

Pekerjaan Rumah Berikutnya

Dengan target TKDN 80 persen pada 2030, pemerintah dan BYD sama-sama memiliki pekerjaan lanjutan yang tidak mudah. Keberhasilan investasi ini pada akhirnya tidak diukur dari jumlah mobil listrik yang keluar dari pabrik Subang.

Ukuran yang lebih besar adalah sejauh mana kehadiran BYD memperluas ekosistem industri, meningkatkan penggunaan komponen lokal, dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar di Indonesia. Itu pekerjaan yang baru dimulai, bukan selesai, begitu ground breaking digarap dan pabrik mulai berproduksi.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wartaekonomi.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks