MAMASA — Peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 19 September 2026, sekitar pukul 14.00 WITA. Warga bergotong-royong menandu Salmawati menuju titik terdekat yang bisa dijangkau mobil evakuasi, namun kontraksi hebat memaksa rombongan berhenti sebelum perjalanan 7 kilometer itu tuntas.
Bidan desa yang mendampingi akhirnya memakai rumah warga di pinggir jalan sebagai ruang bersalin darurat. Sebelum adzan Magrib berkumandang, seorang bayi laki-laki lahir. Tak lama setelah tangisnya pecah, bayi tersebut mendadak berhenti bernapas.
Bayi Berhenti Bernapas, Bidan Bertahan dengan Peralatan Seadanya
Komplikasi persalinan bertemu dengan minimnya peralatan medis di lokasi. Tanpa alat bantu pernapasan yang memadai, bidan desa melakukan penanganan darurat seadanya agar detak jantung bayi kembali stabil.
Evakuasi lanjutan digenjot menembus medan berat hingga mencapai mobil ambulans yang menunggu di ujung jalan. Dari sana, ibu dan bayi dilarikan ke Puskesmas Mambi.
10 Warga Pamoseang–Indobanua Ditandu Sepanjang 2026
Kasus Salmawati bukan peristiwa tunggal. Catatan menunjukkan, sepanjang 2026 saja, sedikitnya 10 warga dari kawasan Pamoseang–Indobanua harus ditandu secara konvensional demi mendapatkan akses medis darurat.
Jarak geografis yang ekstrem, ketiadaan akses kendaraan, dan lambatnya skema evakuasi menjadi tiga persoalan yang berulang. Kehadiran tenaga medis di wilayah itu tak cukup tanpa dukungan jalan yang layak.
Mengapa Jalur Pamoseang Sulit Ditembus Kendaraan
Desa Pamoseang berada di Kecamatan Mambi, salah satu wilayah Kabupaten Mamasa yang berbukit. Jalur darat menuju dusun-dusun di sekitarnya tidak tersentuh kendaraan roda empat, sehingga evakuasi medis bergantung pada tenaga manusia.
Polanya seragam: warga menandu pasien hingga titik jemput terdekat, lalu ambulans mengambil alih. Semakin jauh dusun dari titik jemput, semakin panjang jarak yang harus ditempuh dengan tandu.
Hak Kesehatan yang Masih Jadi Kemewahan
Kasus Salmawati menyorot satu hal yang jarang masuk pembahasan anggaran daerah: tenaga medis yang tersedia tidak otomatis menyelamatkan jiwa kalau jalan menuju fasilitas kesehatan tidak bisa dilalui.
Seorang ibu muda harus mempertaruhkan nyawa dan bayinya di jalanan terjal. Bagi warga Pamoseang dan Indobanua, hak dasar atas kesehatan masih menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Pemerintah daerah maupun pusat menghadapi pertanyaan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya: kapan akses jalan dan skema evakuasi di kawasan Pamoseang–Indobanua dibenahi, sebelum tandu berikutnya kembali berangkat.