POLMAN — Perhorti Sulbar tidak berhenti pada wacana. Program durian Monthong di tujuh kecamatan dirancang sebagai sistem agribisnis utuh: dari pemilihan varietas, kesesuaian lahan, teknologi budidaya, hingga pascapanen dan penciptaan merek. Tujuannya jelas, menjadikan Polman produsen hortikultura berdaya saing nasional, bukan sekadar pemasok bahan mentah.
Mengapa Durian Monthong Dipilih untuk Polman?
Komoditas ini dinilai memiliki prospek besar secara agroekologi. Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada perubahan cara berpikir petani. "Petani tidak boleh terus ditempatkan hanya sebagai produsen bahan mentah. Mereka harus didorong menjadi bagian utama dari rantai nilai agribisnis," ujar Mardjani dalam keterangan yang diterima redaksi.
Pendekatan ini menuntut orkestrasi lintas sektor. Pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, hingga komunitas desa harus bergerak dalam satu ekosistem dari hulu ke hilir. Ketahanan pangan sejati, menurut Mardjani, lahir dari kemampuan wilayah mengelola sumber daya, teknologi, dan manusianya sendiri secara berkelanjutan.
Petani Muda Mamasa dan Mamuju Jadi Motor Penggerak
Pertanian berkelanjutan butuh wajah baru. Di Mamasa, Sudiarno melalui P4S Marenty Jaya membuktikan potensi dataran tinggi dengan spesialisasi komoditas. Wortel, buncis, kubis, brokoli, hingga semangka dikembangkan sesuai karakter agroekologi Desa Osango.
Sementara di Mamuju, Muhammad Padli dari P4S Petani Peternak Muda Keren (PPMK) menunjukkan cara adaptif menghadapi anomali iklim. Intensifikasi cabai yang ia lakukan membawanya meraih penghargaan Duta Petani Milenial dari Kementerian Pertanian RI. "Bertani bukan pekerjaan kelas dua. Masa depan pangan membutuhkan intelektual muda dan ilmu pengetahuan," tegasnya.
Dari Kebun ke Produk Olahan: Strategi Nilai Tambah di Majene
Inovasi juga datang dari Syarifuddin, Ketua Kelompok Tani Bumi Harapan sekaligus Kontak Tani Andalan Sulbar di Majene. Di tengah keterbatasan alam, ia mengembangkan cabai, bawang merah, serta tanaman tahunan seperti pisang, mangga, dan kelapa.
Yang menarik, produksi tidak berhenti di kebun. Melalui UMKM Bumi Harapan, hasil panen diolah menjadi bawang goreng dan olahan cabai. Inilah model pertanian yang diharapkan Perhorti: dari tanah menuju produk, dari produksi menuju nilai tambah, dan dari petani menuju pelaku usaha.
Pekarangan Rumah: Garda Terdepan Ketahanan Pangan Keluarga
Perhorti Sulbar juga menyoroti potensi lahan domestik. Pekarangan rumah dan lahan tidur yang tidak produktif bisa menjadi solusi nyata. Edukasi mengenai pupuk organik cair (POC), kompos, serta pemanfaatan limbah rumah tangga dan pertanian terus didorong.
Program Pekarangan Pangan ini diharapkan mampu menopang kebutuhan pangan keluarga secara mandiri. Dengan begitu, ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan luas, tetapi bisa dimulai dari halaman rumah masing-masing warga Sulbar.