JAKARTA — Perubahan perilaku investor kripto Tanah Air mulai terlihat jelas. Mereka tidak lagi hanya berkutat pada aset kripto utama seperti Bitcoin dan Ethereum, tetapi juga mulai mengeksplorasi instrumen global berbasis tokenisasi untuk memperluas peluang keuntungan.
Data internal Bittime menunjukkan aktivitas perdagangan Tokenized US Stocks melonjak signifikan. Pada Juli 2026, volume transaksinya naik 2,5 kali lipat dibandingkan Juni 2026. Lima produk yang paling banyak diminati adalah SPCXX, NVDAX, CRCLX, MSTRX, dan AAPLX.
Investor Lebih Selektif, Bukan Sekadar Ikut Tren
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menilai fenomena ini sebagai tanda kedewasaan pasar. Investor kini tidak asal membeli, melainkan memilih aset berdasarkan momentum dan strategi pribadi.
“Investor saat ini semakin selektif dalam menentukan aset yang ingin mereka transaksikan. Bitcoin dan Ethereum tetap menjadi aset utama yang banyak diperhatikan, tetapi investor juga mulai melihat peluang lain berdasarkan kondisi pasar, momentum, dan strategi masing-masing,” ujar Ryan dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.
“Bagi kami, ini menunjukkan bahwa pasar semakin berkembang dan investor semakin memahami bahwa setiap aset memiliki karakteristik dan peluang yang berbeda,” sambungnya.
Bitcoin Alami Arus Dana Keluar, XRP dan Solana Justru Menarik Minat
Fenomena selektivitas ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, laporan CoinShares pada Mei 2026 mencatat arus dana keluar (outflow) Bitcoin mencapai US$982 juta. Kondisi ini berbanding terbalik dengan XRP dan Solana yang justru mencatatkan arus dana masuk masing-masing US$67,6 juta dan US$55,1 juta.
Perbedaan arah arus dana tersebut mengindikasikan investor global sedang melakukan rotasi portofolio. Mereka mencari aset dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi atau valuasi yang lebih menarik di tengah volatilitas harga Bitcoin.
Aset Kripto Utama Tetap Jadi Tulang Punggung Transaksi
Meski minat terhadap aset global meningkat, aset kripto utama tidak serta-merta ditinggalkan. Data Bittime mencatat USDT, Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Solana (SOL) masih menjadi primadona dalam aktivitas transaksi pengguna di platform tersebut.
Artinya, investor Indonesia memilih strategi portofolio ganda. Sebagian dana tetap dialokasikan untuk aset kripto yang sudah mapan, sementara sebagian lainnya mulai dialihkan ke instrumen tokenisasi untuk mendapatkan eksposur ke pasar saham global, khususnya Amerika Serikat.
Ekosistem Aset Digital Kian Lengkap
Bagi Bittime, tren ini menjadi pendorong untuk terus memperkaya pilihan aset dalam satu ekosistem. Perusahaan berkomitmen menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan investor lokal yang semakin beragam.
“Perkembangan ini menunjukkan bahwa kebutuhan investor dalam mengakses pasar juga semakin beragam. Mereka tetap menjadikan aset kripto utama sebagai bagian penting dari aktivitas transaksi, namun pada saat yang sama mulai mengeksplorasi instrumen lain yang dapat memberikan eksposur terhadap peluang di pasar global,” pungkas Ryan.
Dengan adanya instrumen seperti Tokenized US Stocks, investor ritel di Indonesia kini memiliki jalur alternatif untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan global tanpa harus membuka rekening efek luar negeri. Langkah ini dinilai sejalan dengan meningkatnya literasi keuangan digital di masyarakat.