SULAWESI BARAT — Koreksi harga terjadi di tengah serangan militer AS ke Iran menyusul jatuhnya helikopter Amerika. Mengutip data tradingeconomics.com, harga perak dunia susut 1,73 persen ke posisi US$ 64,18 per ons. Level ini merupakan yang terendah dalam hampir tiga bulan terakhir.
“Eskalasi terbaru ini menimbulkan keraguan tentang ketahanan gencatan senjata yang rapuh dan prospek kesepakatan perdamaian yang lebih luas, sekaligus memperpanjang penutupan Selat Hormuz,” demikian keterangan yang dikutip dari laporan pasar.
Harga Perak Antam Kini Rp 44.050 per Gram
Berdasarkan laman resmi logammulia.com, Antam membanderol perak batangan di Rp 44.050 per gram pada perdagangan hari ini. Angka itu turun Rp 1.600 dari posisi sebelumnya yang bertengger di Rp 45.650.
Antam menyediakan tiga varian produk perak: batangan 250 gram seharga Rp 11.537.500, batangan 500 gram senilai Rp 22.150.000, serta perak butiran murni 99,95 persen. Penurunan harga ini membuat daya beli investor ritel yang biasa memburu logam mulia sebagai aset safe haven ikut terpengaruh.
Konflik Timur Tengah dan Tekanan Inflasi Global
Kenaikan biaya energi akibat perang di Timur Tengah menjadi biang kerok utama. Harga minyak yang melonjak memicu kekhawatiran inflasi berkelanjutan, yang pada gilirannya mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh bank sentral global. Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (yield) otomatis tertekan dalam skenario seperti ini.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pekan lalu memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) bisa menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Saat ini, berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 70 persen.
Emas Juga Terperosok, Investor Menanti Data Inflasi AS
Nasib emas dunia tak lebih baik. Harga emas di pasar spot merosot 0,7 persen ke US$ 4.298,75 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ambles 0,9 persen ke US$ 4.323,90 per ons. Analis senior RJO Futures, Bob Haberkorn, mengatakan pelaku pasar saat ini berada dalam mode risk-off.
“Para trader sedikit gugup dengan kondisi pasar saat ini. Hampir seluruh kelas aset mengalami aksi risk-off. Kondisi inilah yang saat ini menekan harga emas,” ujar Haberkorn.
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Mei yang akan diumumkan Rabu waktu setempat, serta Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis. Jika inflasi kembali lebih tinggi dari ekspektasi, Commerzbank dalam risetnya memperingatkan harga emas berpotensi turun lebih dalam. Namun bank investasi itu melihat peluang pemulihan pada akhir tahun jika The Fed pada akhirnya tidak jadi menaikkan suku bunga.
Tekanan juga melanda Wall Street. Indeks Nasdaq Composite turun 0,9 persen dan S&P 500 melemah 0,4 persen, menandai aksi jual yang merata di semua kelas aset berisiko.