Pencarian

Saham GOTO Tertekan Aturan Batas Bawah Rp 1, Morgan Stanley Borong 400 Juta Saham

Kamis, 24 September 2026 • 09:20:01 WIB
Saham GOTO Tertekan Aturan Batas Bawah Rp 1, Morgan Stanley Borong 400 Juta Saham
Saham GOTO bertahan di level Rp 50 jelang penerapan batas bawah harga saham Rp 1 oleh BEI pada 28 September 2026.

SULAWESI BARAT — Bursa Efek Indonesia akan menerapkan harga minimum saham Rp 1 mulai 28 September 2026, mengubah batas bawah perdagangan yang selama ini di level gocap atau Rp 50 per saham. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi sorotan karena telah bertahan di level dasar Rp 50 sejak Mei 2026. Di tengah tekanan itu, Morgan Stanley & Co International PLC justru memborong 400 juta saham GOTO di pasar negosiasi pada 18 September 2026 dengan harga Rp 27 per saham.

Kebijakan harga minimum Rp 1 yang akan diberlakukan BEI membuka ruang penurunan lebih dalam bagi saham yang selama ini tersangkut di level gocap. GOTO termasuk emiten yang paling terpapar aturan tersebut karena harga sahamnya sudah lama menempel di Rp 50.

Pada perdagangan Rabu (23/9), antrean jual saham GOTO mengular hingga 392,50 juta lot. Tekanan jual yang besar itu belum sepenuhnya terserap pasar reguler, meski Morgan Stanley mencatatkan pembelian signifikan melalui jalur negosiasi.

Morgan Stanley Naikkan Kepemilikan ke 7,02%

Pembelian 400 juta saham GOTO oleh Morgan Stanley pada 18 September 2026 dilakukan di harga Rp 27 per saham, jauh di bawah level Rp 50 yang berlaku di pasar reguler saat itu. Aksi korporasi ini mengerek kepemilikan Morgan Stanley menjadi 80,93 miliar saham atau setara 7,02% dari total saham beredar GOTO.

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, memproyeksikan saham GOTO masih berisiko tertekan dengan volatilitas tinggi dalam jangka pendek setelah batas bawah Rp 50 dibuka. Menurutnya, antrean jual dalam jumlah besar yang terbentuk sebelumnya menjadi faktor yang memperkuat tekanan tersebut.

"Namun, perubahan aturan menjadi Rp 1 tidak otomatis membuat GOTO menjadi saham gorengan," kata Thoriq kepada Katadata.co.id, Rabu (23/9).

Thoriq menilai GOTO masih memiliki kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, dan basis investor institusi yang kuat. Fundamental perseroan juga menunjukkan perbaikan, tercermin dari pendapatan bersih semester I 2026 yang tumbuh 28% secara tahunan menjadi Rp 10,99 triliun.

EBITDA yang disesuaikan juga melonjak 134% menjadi Rp 1,92 triliun pada periode yang sama. GOTO tercatat sudah membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut dan menyiapkan program buyback hingga Rp 3,5 triliun.

Komisi GoRide 8% Pangkas Target EBITDA

Sentimen negatif masih membayangi GOTO dari kebijakan pemerintah yang membatasi komisi GoRide menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 20% sejak 1 Juli 2026. Aturan itu memaksa GOTO memangkas target EBITDA bisnis On-Demand Services 2026 menjadi Rp 1,4–1,5 triliun, turun dari proyeksi awal Rp 1,7–1,8 triliun.

"Jadi, dalam jangka pendek pasar masih mencari keseimbangan harga baru, sementara investor jangka menengah perlu melihat apakah pertumbuhan fintech mampu mengimbangi tekanan margin dari bisnis transportasi," ungkap Thoriq.

Bagi investor yang membeli GOTO saat IPO di harga Rp 338 per saham, posisi saat ini tergolong berat. Dengan harga yang bertahan di Rp 50, saham GOTO telah anjlok sekitar 85% dan membutuhkan kenaikan hingga 576% untuk kembali ke level IPO.

Thoriq menegaskan investor tidak bisa hanya mengandalkan harapan harga GOTO kembali ke Rp 338. Kondisi bisnis GOTO saat ini sudah berbeda dibandingkan tahun 2022, sehingga keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada prospek bisnis dan toleransi risiko, bukan harga beli.

"Saya juga melihat average down sebaiknya tidak dilakukan secara agresif sebelum harga baru setelah 28 September mulai terbentuk lebih stabil," kata Thoriq.

Nilai Investasi Telkomsel Berpotensi Tertekan Rp 5,22 Triliun

Penurunan harga GOTO di bawah Rp 50 berpotensi menekan nilai investasi Telkomsel. Operator seluler itu masih memegang sekitar 23,72 miliar saham GOTO atau setara 1,99%, dengan harga perolehan sekitar Rp 270 per saham.

Pada harga GOTO Rp 50, Thoriq memproyeksikan nilai kepemilikan Telkomsel mencapai sekitar Rp 1,19 triliun, sementara nilai perolehannya sekitar Rp 6,40 triliun. Selisih keduanya mencapai sekitar Rp 5,22 triliun.

Telkomsel tidak langsung membukukan seluruh selisih tersebut sebagai kerugian di laporan laba rugi. Pada semester I 2026, Telkom membukukan unrealized loss dari investasi GOTO sekitar Rp 332 miliar karena mencatat investasi berdasarkan perubahan fair value antarperiode.

"Secara sederhana, setiap penurunan Rp 1 pada saham GOTO dapat mengurangi nilai kepemilikan Telkomsel sekitar Rp 23,7 miliar, tetapi Telkomsel masih memandang investasi GOTO sebagai kemitraan strategi jangka panjang," ucap Thoriq.

Untuk investor institusi lain, dampak aturan baru ini akan berbeda-beda karena harga masuk dan tujuan investasi masing-masing tidak sama. Investor yang masuk di harga awal berpotensi tertekan lebih dalam karena nilai investasinya jauh di atas harga pasar saat ini.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks