SULAWESI BARAT — Alliance for Automotive Innovation mendesak Kongres AS mengesahkan larangan permanen kendaraan China sebelum masa sidang berakhir pertengahan Desember 2026. Asosiasi yang menaungi General Motors, Toyota, dan Volkswagen itu menilai tarif impor 100 persen untuk EV China belum cukup menutup celah masuk.
Permintaan itu mengemuka jelang kembalinya anggota dewan ke parlemen untuk sesi singkat usai pemilu. Para sponsor bipartisan di Senat sebenarnya sudah sepakat pada September 2026 menunda percepatan pembahasan RUU larangan kendaraan China hingga November 2026, meski aturan tersebut mendapat dukungan luas.
Ketua Alliance for Automotive Innovation John Bozzella menyatakan parlemen perlu mengambil langkah tegas agar pasar domestik tidak kebanjiran produk China. Asosiasi ini mewakili hampir seluruh pabrikan otomotif yang beroperasi di Amerika Serikat.
Tarif 100 Persen Dinilai Belum Cukup
Saat ini produsen otomotif China menghadapi tarif impor sebesar 100 persen untuk kendaraan listrik. Pabrikan China juga dilarang melakukan penjualan di wilayah AS akibat kekhawatiran atas keamanan data serta keamanan nasional.
Kebijakan pembatasan berlaku sejak era pemerintahan Presiden Joe Biden. Aturan itu dibarengi penolakan hak insentif pajak federal bagi kendaraan listrik jika komponen baterai atau mineral penting berasal dari perusahaan yang terhubung dengan China.
Bozzella menegaskan tarif saja tidak menutup semua jalur masuk. "Kita perlu melindungi pasar AS dari banjir impor China yang membawa risiko pengawasan intelijen dan merugikan produsen saat ini yang telah melakukan investasi lintas generasi di komunitas Amerika," ujarnya.
Dua RUU Jadi Kunci Penutupan Celah
Parlemen AS telah mengusulkan dua rancangan undang-undang untuk menutup celah masuk kendaraan asal China. RUU pertama, Connected Vehicle Security Act, berfokus pada pengawasan teknologi, keamanan siber, serta kedaulatan data. Rancangan ini telah diloloskan komite Senat pada Juli 2026 dan kini menantikan pemungutan suara penuh di tingkat Senat.
RUU kedua, Protecting America from Chinese Cars Act, menyasar penegakan hukum perdagangan, struktur korporasi, serta celah rantai pasok. Aturan ini secara eksplisit melarang kendaraan China memasuki pasar AS melalui negara mitra perdagangan bebas seperti Meksiko atau Kanada.
Rancangan tersebut juga melarang penjualan kendaraan yang dirancang, diproduksi, atau didistribusikan oleh entitas yang sahamnya dimiliki sebesar 15 persen atau lebih oleh induk perusahaan China maupun entitas milik pemerintah China.
Bayang-Bayang Impor Eropa Jadi Peringatan
Bozzella mengingatkan ancaman ekspansi industri otomotif China telah terbukti di kawasan Eropa. Uni Eropa mencatat impor lebih dari 1,1 juta unit kendaraan dari China pada delapan bulan pertama 2026, melampaui total volume impor sepanjang 2025.
"Mengingat risiko keamanan nasional yang nyata dan pola perilaku tidak adil dari China, Kongres harus melindungi basis manufaktur canggih serta pertahanan kita, dan menghentikan pembuat mobil China melakukan di sini apa yang telah mereka loloskan di Eropa," tegas Bozzella.
Pelaku industri otomotif AS kini mengkhawatirkan kecukupan waktu bagi Kongres untuk mengesahkan larangan permanen tersebut. Masa sidang Senat berakhir pada pertengahan Desember 2026, sementara dua RUU masih menunggu pembahasan di tingkat penuh.