SULAWESI BARAT — Situasi internal McLaren memasuki fase rumit jelang GP Italia akhir pekan ini. Andrea Stella selaku principal tim harus mengelola dua pebalap dengan status berbeda: Norris yang tengah dalam puncak performa, dan Piastri yang sedang berjuang menemukan kembali ritme terbaiknya.
Kualifikasi Ketat, Tapi Balapan Beda Cerita
Kalau bicara kecepatan murni satu lap, jarak keduanya tipis. Norris hanya unggul rata-rata 0,071 detik sepanjang musim. Namun dari 16 seri yang berjalan, pebalap Inggris itu unggul 12-4 dalam duel kualifikasi.
Di balapan, ceritanya berbeda jauh. Norris sudah memenangi dua seri terakhir dan seharusnya tiga jika tidak melakukan kesalahan di Miami. Piastri hanya sekali tampil kompetitif, di Hungaria, saat akhirnya gagal finis karena masalah girboks setelah sempat memimpin.
Faktor Teknis di Balik Penurunan Performa
Stella punya penjelasan spesifik. Mobil 2026 memiliki downforce lebih rendah, kondisi yang membuat Piastri kurang nyaman dibanding Norris yang adaptif.
"Tahun lalu kami sudah melihat Oscar secara teknis butuh adaptasi saat mobil punya grip rendah, seperti di Meksiko atau Austin," ujar Stella di Belanda. "Dia butuh usaha mental lebih, akhirnya kehilangan dua atau tiga persepuluh detik karena harus memproses daripada mengendarai murni berdasarkan insting."
Kepala tim McLaren itu menegaskan ini murni persoalan teknis, bukan psikologis. Persaingan ketat di antara tiga tim teratas memperparah keadaan: kesalahan kecil langsung berujung kehilangan posisi besar.
Ancaman Nyata dari Max Verstappen
McLaren dan Piastri membantah ada ketegangan di antara mereka. Tapi fakta berbicara lain. McLaren sempat berusaha menggaet Max Verstappen pada musim panas ini, dan jika berhasil, hampir pasti Piastri yang dikorbankan.
Gagalnya manuver itu karena Verstappen meneken kontrak baru dengan Red Bull. Namun kontrak itu memuat klausul performa — jika Red Bull masih terpuruk tahun depan, bukan tidak mungkin McLaren mencoba lagi. Piastri sendiri masih terikat kontrak hingga setidaknya akhir 2027.
Mercedes Rela Start Paling Belakang di Monza
Kimi Antonelli sengaja mengambil penalti grid pada GP Italia akhir pekan ini. Mercedes berencana memasang mesin baru pada mobil pebalap 20 tahun itu, yang berarti ia kemungkinan start dari posisi terakhir.
Keputusan berani ini diambil demi kepentingan jangka panjang. Masalah keandalan di awal musim memaksa Mercedes bersedia mengorbankan satu balapan di sirkuit ikonik — meski Monza adalah "kandang" kedua bagi pembalap asal Italia itu.
Dengan persaingan tiga tim teratas yang sangat ketat, kehilangan posisi start sekali saja bisa berakibat fatal. Strategi ini menunjukkan prioritas Mercedes bukan sekadar hasil jangka pendek, melainkan memastikan Antonelli punya senjata penuh untuk sisa musim.