SULAWESI BARAT — Harga logam mulia milik BUMN tambang itu turun tipis dari posisi sebelumnya yang bertengger di Rp 40.550 per gram. Data di laman resmi Logam Mulia Antam menunjukkan penurunan ini terjadi di semua ukuran, baik keping 250 gram hingga 1 kilogram. Meski hanya turun sekitar 1%, pergerakan ini cukup menyita perhatian pelaku pasar karena perak kerap dijadikan alternatif lindung nilai selain emas.
Konflik Iran-AS Kembali Panaskan Harga Minyak, Perak Tertekan
Tekanan pada harga perak dunia datang dari langkah AS yang melancarkan serangan rudal keempat dalam sepekan terhadap Iran pada Minggu (12/7). Serangan itu merupakan balasan atas aksi Iran yang menyerang kapal kontainer berbendera Siprus. Teheran bahkan mengancam akan menutup Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—"sampai pemberitahuan lebih lanjut," meski klaim tersebut langsung dibantah Komando Pusat AS.
Konsekuensinya, harga minyak mentah melonjak. "Harga minyak yang tinggi memicu ekspektasi bahwa bank sentral, terutama The Fed, akan menaikkan suku bunga lebih agresif untuk mengendalikan inflasi," tulis laporan Trading Economics, Senin (13/7). Suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia karena meningkatkan biaya oportunitas memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Wall Street Terbelah: Emas Sulit Bangkit, Perak Ikut Terombang-ambing
Survei mingguan Kitco News menunjukkan analis Wall Street dan investor ritel sama-sama belum sepakat soal arah logam mulia pekan ini. Dari 13 analis yang disurvei, 38% memperkirakan harga emas naik, 23% memprediksi turun, dan 38% sisanya memilih netral. Pola serupa terlihat dari 282 responden ritel: 42% optimistis, 38% pesimistis, dan 20% melihat konsolidasi.
Kepala Strategi Mata Uang InvestingLive, Adam Button, menilai prospek emas—dan secara tidak langsung perak—masih suram selama konflik Iran berlangsung. "Sulit untuk antusias terhadap emas selama konflik di Iran masih berlangsung. Risiko kenaikan harga minyak lebih besar, sehingga justru berpotensi menjadi tekanan bagi emas," ujarnya.
Di sisi lain, analis VR Metals/Resource Letter Mark Leibovit tetap optimistis. Ia memproyeksikan harga emas bisa merangkak naik ke kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per ons dalam beberapa pekan ke depan. Namun, analis komoditas senior StoneX Group, Daniel Pavilonis, mengingatkan bahwa arus dana mulai bergeser ke pasar saham dan sektor teknologi, mengurangi minat pada logam mulia. "Jika harga emas menembus level terendah terbaru, penurunannya bisa berlanjut ke US$ 3.800–US$ 3.600 per ons," katanya.
Kebijakan The Fed Jadi Penentu Selanjutnya
Pasar kini menanti data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Pasar memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun. Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, juga dijadwalkan memberikan pernyataan pertamanya di hadapan Kongres AS pada Selasa (14/7). Pernyataan Warsh akan menjadi petunjuk penting apakah bank sentral AS akan lebih hawkish atau justru wait and see.
Bagi investor perak Antam di dalam negeri, situasi ini berarti volatilitas masih akan berlanjut. Koreksi harga hari ini bisa menjadi peluang akumulasi jika keyakinan terhadap logam mulia jangka panjang tetap kuat, namun risiko tekanan lanjutan juga terbuka lebar seiring ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global.