MAMUJU — Operasi Patuh Marano 2026 di Sulawesi Barat resmi dimulai pada 8 Juni 2026. Namun, ada yang berbeda dari pelaksanaan tahun ini. Kapolda Sulbar Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta secara khusus menginstruksikan personel untuk tidak menjadikan penilangan sebagai prioritas utama.
Polisi Diminta “Memenangkan Hati” Masyarakat
Dalam Latihan Pra Operasi (Latpra) yang digelar secara daring dari Mapolda Sulbar, Kamis (5/6/2026), Kapolda menegaskan bahwa operasi ini harus memberikan dampak positif bagi warga. Ia melarang keras tindakan yang bisa memicu kekesalan publik.
“Jangan hanya fokus menindak. Kita harus memenangkan hati masyarakat. Munculkan ide-ide kreatif yang membuat mereka merasa dilayani, bukan ditakuti,” ujar Adi Deriyan di hadapan para Kapolres dan pejabat utama Polda Sulbar.
Aksi Sosial Jadi Senjata Baru: Helm Gratis hingga Cuci Kendaraan
Alih-alih langsung menilang, personel Polantas di seluruh Sulbar diminta merancang program unggulan masing-masing. Beberapa kegiatan yang disarankan Kapolda antara lain pembagian helm keselamatan, layanan cuci kendaraan gratis, dan kegiatan edukatif lain yang mendorong kesadaran tertib berlalu lintas.
“Berikan pemahaman, himbauan, dan bantu mereka. Perintahnya ‘Patuh’, tapi kita kemas dengan cara yang menyentuh,” tegasnya.
Penindakan Jadi Pilihan Terakhir
Meski operasi ini tetap mengusung sandi “Patuh” yang identik dengan penegakan hukum, Kapolda menekankan bahwa penindakan hanya boleh dilakukan jika upaya pembinaan dan penyadaran tidak membuahkan hasil. Ia mengingatkan agar seluruh personel menghindari penyalahgunaan wewenang yang bisa mencoreng citra Polri, terlebih menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80.
Latpra Operasi Patuh Marano 2026 ini diikuti oleh seluruh Kapolres jajaran, Kabag Ops, Kasat Lantas, dan Kasat Samapta. Kegiatan dipusatkan di Ruang Vicon Mapolda Sulbar dan terhubung secara daring melalui Zoom Meeting.
Target Akhir: Lalu Lintas Aman dan Polisi Dirasa sebagai Pelindung
Kapolda berharap melalui pendekatan humanis ini, tercipta situasi keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas) yang kondusif di seluruh wilayah Sulawesi Barat. “Kehadiran polisi harus dirasakan sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” pungkas Adi Deriyan.