MAMUJU — Peringatan Hari Lahir Pancasila di Sulawesi Barat tahun ini menjadi momen bagi Gubernur Sulbar untuk mengingatkan kembali esensi ideologi bangsa. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara yang dihafal, melainkan pedoman bertindak yang harus terlihat dalam interaksi sosial masyarakat. Ajakan ini menyasar seluruh elemen, mulai dari aparatur sipil negara hingga warga di tingkat kampung.
Menjiwai Pancasila, Bukan Sekadar Ritual Tahunan
Gubernur Sulbar secara spesifik menyoroti dua nilai utama yang dinilai paling relevan dengan kondisi terkini di provinsi tersebut. Pertama, nilai gotong royong yang belakangan tergerus oleh individualisme. Kedua, toleransi antarumat beragama dan antarkelompok masyarakat yang menjadi fondasi kerukunan di Sulbar yang majemuk.
"Pancasila harus kita jiwa, bukan hanya kita lafalkan," ujar Gubernur dalam pidatonya, mengingatkan bahwa peringatan tahunan sering kali berhenti pada seremoni tanpa implementasi nyata. Ia mendorong agar semangat musyawarah dan kekeluargaan kembali menjadi kebiasaan dalam menyelesaikan persoalan di tingkat RT, desa, hingga kabupaten.
Mengapa Ajakan Ini Mengemuka di Momentum 1 Juni?
Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni menjadi pengingat akan sejarah lahirnya dasar negara. Namun, di Sulbar, momen ini juga menjadi evaluasi atas soliditas sosial pasca berbagai dinamika daerah. Gubernur menilai, tantangan terbesar saat ini bukan pada pemahaman teoritis Pancasila, melainkan pada pengamalannya di ruang publik.
Ia mencontohkan, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab harus tercermin dalam pelayanan publik yang tidak diskriminatif. Sementara itu, persatuan Indonesia harus dirawat dengan tidak mudah terprovokasi isu-isu perpecahan, terutama di tahun politik.
Apa Langkah Selanjutnya?
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat berencana mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam program pembangunan karakter daerah. Tidak hanya melalui forum-forum resmi, tetapi juga melalui kegiatan kemasyarakatan yang melibatkan generasi muda. Gubernur berharap, ajakan ini bisa menjadi gerakan kolektif yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan komunitas.
Peringatan kali ini diharapkan menjadi titik awal penguatan kembali identitas kebangsaan di tengah arus perubahan sosial yang cepat. "Mari kita buktikan bahwa Pancasila benar-benar menjadi way of life kita di Sulbar," pungkasnya.