SULAWESI BARAT — Peresmian pabrik PT BYD Motor Indonesia di Subang berlangsung Kamis (3/9). Fasilitas ini bukan sekadar perakitan kecil—kapasitas produksinya mencapai 150.000 unit per tahun, angka yang hampir menyamai total penjualan EV nasional pada semester pertama tahun ini.
Vice President of BYD Co Ltd, Liu Xueliang, menegaskan bahwa pabrik ini akan memasok tidak hanya pasar domestik. "Kita akan memproduksi mobil untuk dunia dari Subang," ujarnya dalam seremoni peresmian.
Dana yang digelontorkan untuk membangun pabrik ini mencapai Rp 16 triliun. Saat ini, lebih dari 5.000 pekerja lokal sudah terlibat dalam proses produksi. Jika kapasitas pabrik berjalan penuh, BYD memperkirakan kebutuhan tenaga kerja bisa menyentuh 20.000 orang.
Lahan seluas 126 hektare di Subang ini direncanakan sejak 2023. Liu Xueliang masih ingat betul kondisi awal lahan tersebut. "Tahun 2023, ketika saya datang ke Subang, di sini hanya ada lahan dan langit yang luas," katanya.
Lini produksi Subang akan mengisi tiga segmen berbeda. Atto 1 menjadi model listrik entry-level, M6 DM membawa teknologi hybrid, sementara Denza menyasar pasar mobil mewah. Kombinasi ini menunjukkan strategi BYD untuk mencakup lapisan harga yang luas.
Keputusan memproduksi M6 DM secara lokal menarik dicermati. Segmen hybrid di Indonesia justru tumbuh lebih cepat dari EV murni, dan BYD tampaknya ingin merebut pangsa pasar itu dengan produk rakitan dalam negeri, bukan sekadar impor utuh.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita hadir langsung dalam acara ini. Ia menyebut kehadiran BYD akan mendorong pertumbuhan industri otomotif sekaligus membuka lapangan kerja.
Agus memaparkan data penjualan kendaraan elektrifikasi yang cukup menjanjikan. Pada semester 1 tahun 2026, EV mencatat penjualan 70 ribu unit dengan pangsa pasar sekitar 14 persen. Hybrid menyusul dengan 40.400 unit dan pangsa pasar 10 persen.
"Besarnya pasar kendaraan elektrifikasi ini mencerminkan semakin kuatnya penerimaan konsumen terhadap teknologi kendaraan listrik dan teknologi kendaraan rendah emisi," ujar Agus.
Ia menambahkan, pemerintah mendorong pabrikan untuk tidak hanya berbisnis, tetapi juga ikut membangun industri yang kuat di dalam negeri. "Tidak hanya untuk membangun pasar kendaraan listrik, tetapi juga harus mampu memperkuat struktur industri dan kapasitas produksi di dalam negeri," tegasnya.
Bagi calon pembeli, pabrik ini berarti beberapa hal. Pertama, potensi harga lebih kompetitif karena bea masuk komponen utuh tidak lagi membebani biaya produksi. Kedua, ketersediaan unit seharusnya lebih stabil karena rantai pasok dipangkas.
Namun, publik perlu mengawasi realisasi kapasitas produksi. Angka 150.000 unit per tahun adalah kapasitas maksimum—tidak otomatis berarti BYD akan langsung memproduksi sebanyak itu sejak bulan pertama. Yang lebih realistis dicermati adalah seberapa cepat tingkat kandungan lokal meningkat dan bagaimana harga jual berubah setelah produksi massal berjalan.
Yang juga perlu dipertanyakan adalah dampak terhadap harga jual. Selama ini BYD dikenal agresif menetapkan harga. Dengan pabrik lokal, ruang untuk menekan harga seharusnya semakin lebar—pertanyaannya, apakah itu akan diteruskan ke konsumen atau justru menaikkan margin perusahaan.