MAMUJU TENGAH — Efek domino dari mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kini dirasakan langsung oleh pengendara motor di pelosok Mamuju Tengah. Pasokan oli dari distributor ke bengkel-bengkel kecil tersendat, memicu kenaikan harga eceran yang memberatkan warga.
Kecamatan Karossa menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Alimuddin, pemilik bengkel motor di Desa Lara, mengaku sudah berminggu-minggu kesulitan mendapatkan stok oli dari toko grosir maupun pusat kecamatan.
“Sekarang suplai oli dibatasi dari pusat grosir suku cadang. Kita yang bengkel kecil ini sering tidak kebagian karena modal terbatas untuk berebut stok,” kata Alimuddin.
Menurutnya, penyebab utama adalah meroketnya ongkos angkut. Kendaraan logistik yang membawa suku cadang dan oli ke wilayah pelosok mengeluhkan harga solar eceran yang tinggi dan sulit didapat. Beban biaya itu kemudian dibebankan ke harga modal oli yang dibeli bengkel.
Dengan modal terbatas dan biaya operasional yang membengkak, bengkel-bengkel kecil di Desa Lara terpaksa menaikkan harga jual eceran. Lonjakan mencapai Rp10.000 per botol dari harga normal.
Kondisi ini membuat warga pengendara motor di pelosok kesulitan mendapatkan pelumas berkualitas. Jika fluktuasi harga solar dan kemacetan distribusi dari toko grosir di Karossa terus berlanjut, para pelaku usaha mikro khawatir mereka harus menutup usahanya karena kehabisan pelumas untuk melayani pelanggan.
Warga berharap ada intervensi dari dinas terkait untuk menstabilkan harga logistik di Mamuju Tengah. Tanpa langkah cepat, rantai pasok oli di daerah terpencil diprediksi akan semakin terpuruk.