Pencarian

Rupiah Terjun ke Rp17.844 per Dolar AS, Dipicu Konflik Timur Tengah dan Tunggu Data Domestik

Senin, 01 Juni 2026 • 10:36:01 WIB
Rupiah Terjun ke Rp17.844 per Dolar AS, Dipicu Konflik Timur Tengah dan Tunggu Data Domestik
Rupiah melemah ke Rp17.844 per dolar AS di tengah ketegangan Timur Tengah dan antisipasi data ekonomi domestik.

SULAWESI BARAT — Pagi ini, rupiah terdepresiasi 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan juga melanda mata uang kawasan. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen, disusul peso Filipina yang turun 0,18 persen, dan baht Thailand melemah 0,17 persen. Yen Jepang, yuan China, serta dolar Singapura juga kompak berada di zona merah.

Di negara maju, franc Swiss mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,27 persen, diikuti euro Eropa yang turun 0,12 persen. Poundsterling Inggris dan dolar Australia melemah tipis 0,01 persen, sementara dolar Kanada terdepresiasi 0,11 persen.

Dua Sumber Tekanan: Perang Dagang dan Kebutuhan Valas Musiman

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih dalam fase konsolidasi. Ia menyebut dua faktor utama yang menekan: pertama, ketidakpastian negosiasi AS-Iran yang masih limbung; kedua, investor bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang akan diumumkan besok.

"Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6). Ia memperkirakan rentang pergerakan rupiah hari ini berada di Rp17.750 per dolar AS hingga Rp17.800 per dolar AS.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) juga mencatat tekanan tambahan dari dalam negeri. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman—untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen—semakin membebani rupiah di tengah arus masuk valas yang terbatas.

BI Siap Intervensi di Pasar

Meski tekanan berasal dari eksternal dan internal, BI menegaskan komitmennya untuk hadir di pasar. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," kata Ramdan dalam pernyataan resmi pada Jumat (29/5).

BI telah menyiapkan berbagai instrumen intervensi untuk meredam volatilitas, terutama saat libur panjang dan cuti bersama Iduladha 2026 yang lalu. Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan valas tetap terjaga dan rupiah tidak anjlok lebih dalam.

Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada hasil negosiasi AS-Iran serta data ekonomi domestik. Jika inflasi dan neraca perdagangan besok menunjukkan hasil positif, rupiah berpotensi menguat kembali ke bawah level Rp17.800.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks