Keputusan ini diumumkan Apple bersamaan dengan peluncuran program Apple Upgrade yang mencakup iPhone, iPad, Apple Watch, dan Mac. Lewat siaran pers yang dikeluarkan hari ini, perusahaan mengatakan pengguna iPhone Upgrade Program yang sudah memenuhi syarat upgrade akan mendapat beberapa pilihan: beralih ke skema sewa Apple Upgrade, membiayai dengan Apple Card Monthly Installments, membeli perangkat secara lunas, atau memilih pembiayaan dari operator seluler.
Skema Sewa vs Cicilan: Perbedaan Fundamental di Balik Layar
iPhone Upgrade Program yang diluncurkan bersama iPhone 6s pada September 2015 sejatinya adalah pinjaman cicilan yang didanai Citizens One. Pembayaran bulanan pengguna langsung mengurangi pokok utang, dan setelah 12 kali cicilan, pengguna bisa upgrade ke model terbaru. Jika bertahan 24 bulan, perangkat menjadi milik pengguna sepenuhnya.
Apple Upgrade bekerja dengan logika yang berbeda. Klarna, perusahaan fintech asal Swedia, menjadi pemilik perangkat selama masa sewa. Pembayaran bulanan pengguna hanya mencakup biaya pemakaian, bukan kepemilikan. Di akhir periode, pengguna punya tiga opsi: upgrade ke perangkat baru, membeli perangkat yang sedang dipakai, atau mengembalikannya dan keluar dari program.
Perbedaan lain: iPhone Upgrade Program sudah termasuk perlindungan AppleCare dalam tagihan bulanan. Di Apple Upgrade, AppleCare menjadi add-on terpisah yang harus dibayar tambahan.
Apa Artinya bagi Pengguna iPhone di Indonesia?
Meski program iPhone Upgrade dan Apple Upgrade saat ini hanya berlaku di Amerika Serikat, perubahan ini tetap relevan bagi pengguna Indonesia yang kerap membeli iPhone lewat jalur importir atau reseller. Skema sewa ala Klarna yang kini diadopsi Apple bisa menjadi preseden bagi model pembiayaan perangkat di pasar Asia, termasuk Indonesia, jika suatu hari diperluas secara global.
Bagi pengguna Indonesia yang terbiasa membeli iPhone dengan skema cicilan 0% via kartu kredit atau fintech lokal, model sewa justru menghadirkan pertanyaan baru: apakah biaya sewa lebih murah dibanding cicilan kepemilikan? Jawabannya tergantung pada kebijakan Klarna dan apakah Apple akan membawa program ini ke luar Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Transisi yang Mungkin Membingungkan bagi Pengguna Lama
Apple mengatakan akan memandu pengguna iPhone Upgrade Program yang sudah eligible untuk melakukan transisi. Namun, pesan intinya jelas: tidak ada lagi jalur upgrade otomatis lewat program lama. Pengguna harus aktif memilih salah satu opsi yang tersedia saat masa upgrade tiba.
Program cicilan iPhone Payments juga ikut dihentikan bersamaan. Artinya, dua opsi pembiayaan langsung dari Apple di AS kini digantikan oleh satu program sewa dan satu opsi pembiayaan via Apple Card yang bekerja sama dengan Goldman Sachs.
Perbandingan Langsung: Mana yang Lebih Menguntungkan?
Secara matematis, skema sewa biasanya lebih mahal dalam jangka panjang karena tidak ada akumulasi ekuitas. Namun, bagi pengguna yang selalu ingin menggunakan model terbaru setiap tahun, Apple Upgrade bisa menjadi opsi yang lebih sederhana: tidak perlu menjual perangkat bekas, cukup kembalikan dan ambil yang baru.
Sebaliknya, pengguna yang biasa menyimpan iPhone selama 2-3 tahun akan lebih diuntungkan dengan pembelian lunas atau cicilan kepemilikan, karena perangkat bisa dijual kembali di pasar sekunder. Di Indonesia, nilai jual kembali iPhone bekas tergolong tinggi, sehingga skema cicilan kepemilikan tetap lebih menarik ketimbang sewa.
Keputusan Apple menutup iPhone Upgrade Program menandai pergeseran strategi dari model cicilan kepemilikan ke model sewa berlangganan — tren yang sudah lebih dulu diadopsi industri otomotif dan kini merambah gadget konsumen.