SULAWESI BARAT — Netflix memangkas sekitar 2 hingga 3 persen staf di kantor London, Inggris, dengan VP Physical Production Anna Mallett termasuk di antara yang terdampak. Kantor yang mempekerjakan ratusan orang itu juga kehilangan sejumlah pegawai di divisi komunikasi dan peran lain. Pemangkasan di Inggris ini memperjelas dampak gelombang PHK besar yang sebelumnya mengguncang kantor pusat Netflix di Amerika Serikat.
Anna Mallett bergabung dengan Netflix pada November 2020 setelah meninggalkan posisinya sebagai CEO ITN. Selama di Netflix, ia menangani produksi fisik untuk serial dan film di Inggris serta produksi konten berbahasa lokal di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA).
Karya yang masuk dalam cakupan kerjanya bukan kaliber kecil. Ada Baby Reindeer, Adolescence, hingga musim-musim terakhir serial Spanyol Money Heist yang jadi salah satu judul global paling dikenal Netflix.
Siapa Anna Mallett di Mata Industri Inggris
Sebelum masuk Netflix, Mallett punya rekam jejak panjang di media Inggris. Ia pernah menjabat Group Chief Operating Officer dan Managing Director Production di BBC Studios sebelum dipercaya memimpin ITN sebagai CEO.
Kombinasi pengalaman di penyiaran publik dan studio produksi membuat namanya kerap dikaitkan dengan proyek-proyek ambisius Netflix di pasar Inggris. Kepergiannya dari jajaran eksekutif menandai satu lagi perubahan komposisi tim produksi streamer tersebut di Eropa.
Skala PHK di Kantor London
Pemangkasan di kantor London menyasar sekitar 2 sampai 3 persen dari total karyawan yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Divisi komunikasi termasuk area yang terkena, meski Netflix tidak merinci jumlah pasti posisi yang dihapus.
Langkah di Inggris ini merupakan kelanjutan dari gelombang PHK yang lebih besar di tingkat global. Pada pertengahan Oktober, Netflix memutuskan merumahkan sekitar 1.000 karyawan atau setara 6 persen dari total tenaga kerjanya.
Itu menjadi pemangkasan terbesar perusahaan sejak 2022. Dampaknya tidak hanya terasa di level staf operasional, tetapi juga menyentuh jajaran atas, termasuk chief content officer Bela Bajaria dan bos film Dan Lin.
Alasan di Balik Efisiensi Netflix
Co-CEO Netflix Ted Sarandos memberi gambaran soal arah perusahaan dalam panggilan membahas laporan keuangan kuartal ketiga. Menurutnya, fondasi bisnis tetap sehat dan tidak perlu perubahan strategi besar.
"The business and the business flywheel are working. There's no need for a fundamental shift in strategy," ujar Sarandos dalam panggilan tersebut.
Ia menambahkan bahwa yang dibutuhkan perusahaan adalah eksekusi lebih baik di pasar Amerika Serikat. Konten Netflix di berbagai belahan dunia dinilai masih berjalan baik, hanya saja pertumbuhannya belum secepat yang diharapkan.
"We had some really solid doubles and triples this year. But the other territories count on some of those titles being home runs so they'll travel around the world. So we're really focusing on that execution," lanjutnya.
Dampak bagi Industri Produksi Inggris
Kantor London selama ini menjadi salah satu basis penting Netflix di luar Amerika Serikat, terutama untuk produksi serial dan film berbahasa Inggris. Pemangkasan di divisi produksi fisik berpotensi memengaruhi ritme pengembangan proyek lokal.
Bagi ekosistem kreatif Inggris, kabar ini menambah tekanan setelah beberapa tahun belanja konten streamer melonjak lalu mulai dikoreksi. Rumah produksi dan kru lepas yang bergantung pada proyek Netflix akan mencermati apakah jumlah produksi ikut menyesuaikan.
Netflix belum mengungkap proyek mana yang terdampak langsung maupun rencana perekrutan pengganti. Yang jelas, perusahaan memilih merampingkan struktur sambil tetap mempertahankan judul-judul besar sebagai mesin pertumbuhan globalnya.