Pencarian

Revolut Konfirmasi Kebocoran Data via Email Palsu Instansi Pemerintah

Sabtu, 12 September 2026 • 21:48:31 WIB
Revolut Konfirmasi Kebocoran Data via Email Palsu Instansi Pemerintah
Revolut konfirmasi kebocoran data pelanggan melalui email palsu yang memanfaatkan domain instansi pemerintah.

SULAWESI BARAT — Data yang terekspos meliputi tanggal lahir, alamat pos dan email, nomor telepon, serta salinan dokumen identitas seperti paspor dan surat izin mengemudi. Revolut juga menyatakan data yang bocor mungkin mencakup swafoto verifikasi, laporan rekening, dan riwayat transaksi.

Data Apa Saja yang Bocor

Dalam notifikasi yang dikirim ke pelanggan terdampak dan ditinjau TechCrunch, Revolut merinci jenis informasi yang terekspos ke pihak tak berwenang. Berikut rinciannya:

  • Identitas dan detail kontak: tanggal lahir, alamat pos, alamat email, nomor telepon
  • Salinan dokumen identitas: paspor dan surat izin mengemudi (SIM)
  • Kemungkinan data tambahan: swafoto verifikasi, laporan rekening, riwayat transaksi

Juru bicara Revolut mengonfirmasi bahwa jumlah pelanggan terdampak "terbatas" dan perusahaan telah menghubungi mereka secara langsung. Namun Revolut menolak mengungkap jumlah pasti korban, apakah insiden terbatas pada pasar tertentu, dan instansi pemerintah mana yang domainnya disalahgunakan.

Bagaimana Insiden Ini Terjadi

Pelaku memanfaatkan domain email resmi sebuah instansi pemerintah untuk mengirim permintaan informasi yang tampak sah. Karena berasal dari domain yang legitimate, permintaan itu lolos prosedur internal Revolut sebelum akhirnya terdeteksi sebagai penipuan.

Revolut menyatakan telah memblokir alamat email tersebut setelah menemukan scam, serta melaporkan insiden ke instansi pemerintah terkait, penegak hukum, dan regulator keuangan. Perusahaan menegaskan sistem Revolut dan dana pelanggan tidak terpengaruh.

Revolut Bungkam soal Jumlah Korban dan Pasar Terdampak

Sejumlah pertanyaan kunci belum terjawab. Revolut tidak mengungkap berapa pelanggan yang terdampak, apakah insiden ini hanya menimpa pengguna di satu negara, dan instansi pemerintah mana yang domainnya dipakai pelaku.

Peneliti keamanan kripto ZachXBT pertama kali memposting soal email Revolut ke pelanggan terdampak pada Jumat malam. Ia menduga insiden ini menyasar pengguna beraset tinggi.

Latar Belakang Revolut: 80 Juta Pelanggan dan Rencana IPO

Revolut berbasis di London dengan lebih dari 80 juta pelanggan global dan beroperasi sebagai bank di lebih dari 30 negara. Perusahaan baru saja memperluas kehadiran di India, Meksiko, Prancis, dan Uni Emirat Arab.

Awal bulan ini, Office of the Comptroller of the Currency (OCC) Amerika Serikat memberi persetujuan bersyarat kepada Revolut untuk mendirikan bank nasional di AS, yang ditargetkan beroperasi pada paruh pertama 2027. Revolut juga dilaporkan tengah mempertimbangkan penawaran saham perdana (IPO) yang berpotensi menilai perusahaan hingga USD 200 miliar (sekitar Rp 3.300 triliun), naik dari valuasi privat USD 75 miliar pada November lalu.

Dampak ke Pengguna di Pasar Global

Insiden ini menambah daftar panjang serangan rekayasa sosial yang menargetkan platform keuangan. Bagi pengguna Revolut, terutama yang datanya terekspos, risiko utama bukan pencurian dana langsung, melainkan penyalahgunaan identitas untuk pembukaan rekening palsu atau penipuan lanjutan.

Revolut belum mengumumkan langkah mitigasi tambahan seperti pemantauan kredit gratis atau layanan perlindungan identitas bagi korban. Perusahaan juga tidak menyebut apakah pelaku telah teridentifikasi.

Pengguna yang menerima notifikasi disarankan segera mengganti kata sandi, mengaktifkan autentikasi dua faktor, dan mewaspadai komunikasi mencurigakan yang mengatasnamakan Revolut atau instansi pemerintah.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks