MAJENE — Suasana di SMPN 9 Majene, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, berubah ramai pada Sabtu (13/6). Langkah optimis para orang tua dan calon siswa baru mewarnai koridor sekolah di hari pertama penerimaan murid baru.
Mereka datang membawa harapan besar untuk menitipkan masa depan anak-anaknya di salah satu institusi pendidikan formal di Sulawesi Barat ini. Proses seleksi tahun ini menggunakan nomenklatur baru: SPMB, yang sebelumnya dikenal sebagai PPDB.
Transformasi Nama, Bukan Sekadar Ganti Label
H. Munafri, S.Pd.I, yang memantau langsung dinamika di lapangan, menegaskan bahwa perubahan dari PPDB menjadi SPMB memiliki makna lebih dalam. Menurutnya, transformasi ini merupakan manifestasi semangat baru dalam mengelola transisi akademik yang lebih modern, inklusif, dan tertata.
"Transformasi nomenklatur dari PPDB menjadi SPMB bukan sekadar pergantian nama, melainkan manifestasi dari semangat baru dalam mengelola transisi akademik yang lebih modern, inklusif, dan tertata dengan matang," ujarnya.
Tiga Jalur Seleksi: Zonasi, Afirmasi, dan Prestasi
Tahun ini, SMPN 9 Majene menerapkan tiga pilar jalur seleksi yang berjalan secara presisi. Pertama, Jalur Domisili atau zonasi yang mewujudkan konsep keadilan spasial bagi anak-anak di radius terdekat sekolah.
Kedua, Jalur Afirmasi yang menjadi bentuk keberpihakan negara. Jalur ini membuka pintu lebar bagi anak-anak dari keluarga pemegang KIP/PKH serta penyandang disabilitas. Ketiga, Jalur Prestasi yang menjadi panggung apresiasi bagi para pejuang kompetisi akademik maupun non-akademik.
H. Munafri menekankan bahwa penanggung jawab tertinggi dalam sistem ini memegang mandat berat. Tugas utamanya adalah memastikan setiap proses—dari verifikasi berkas hingga penentuan kelulusan—berjalan di atas rel objektivitas dan transparansi.
Integritas Tanpa Tebang Pilih
"Tiada ruang bagi tebang pilih; semua anak bangsa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengetuk pintu ilmu di sekolah ini," tegasnya.
Melalui sinergi ketiga jalur ini, SPMB di SMPN 9 Majene diharapkan tidak lagi sekadar rutinitas administratif tahunan. Proses ini diyakini mampu menjadi seleksi yang humanis dan komitmen nyata dalam mencetak generasi emas Majene.