SULAWESI BARAT — Di tengah reruntuhan dan keterbatasan akibat konflik berkepanjangan, warga Palestina di kamp pengungsian Khan Younis tetap mencari celah untuk merasakan semarak Piala Dunia. Mereka berkumpul di sebuah kafe sederhana yang memiliki televisi, menyaksikan siaran langsung pertandingan perdana edisi 2026 yang digelar di Meksiko.
Hiburan 90 Menit di Tengah Reruntuhan
Suasana kafe langsung berubah menjadi riuh rendah saat wasit meniup peluit panjang. Tawa dan sorak-sorai terdengar silih berganti, mengalahkan dengung pesawat nirawak yang kerap melintas di atas Gaza.
Bagi sebagian besar pengungsi, menonton sepak bola adalah satu-satunya cara untuk melupakan sementara realitas pahit kehilangan rumah dan anggota keluarga. Mereka duduk berdesakan, mata terpaku pada layar, larut dalam setiap umpan dan tendangan yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.
Meksiko vs Afrika Selatan: Laga Pembuka Penuh Euforia
Pertandingan pembuka antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan menjadi tontonan utama. Meski tidak ada informasi detail skor akhir dalam laporan, atmosfer nobar di Gaza menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap ajang empat tahunan ini.
Warga Palestina, yang selama ini hidup dalam isolasi dan blokade, memanfaatkan momen Piala Dunia sebagai pengingat bahwa dunia di luar konflik masih berputar dengan normal. Seorang pengungsi yang enggan disebutkan namanya mengatakan, momen seperti ini sangat langka dan berharga bagi mereka.
Piala Dunia 2026: Sorotan Global dari Gaza
Piala Dunia 2026 resmi bergulir dengan Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada sebagai tuan rumah bersama. Laga perdana yang mempertemukan Meksiko kontra Afrika Selatan menjadi pusat perhatian global, termasuk di wilayah konflik seperti Gaza.
Kisah nobar di Khan Younis ini menjadi pengingat bahwa sepak bola memiliki kekuatan menyatukan, bahkan di tengah situasi paling sulit sekalipun. Untuk sementara waktu, perang berhenti di layar kaca—dan warga Gaza bisa tersenyum.