SULAWESI BARAT — Memasangkan masker pada balita saat asap karhutla menyelimuti bukan perkara mudah. Penelitian menunjukkan anak usia 2 tahun hanya bertahan memakai masker paling lama 60 menit hingga 2 jam. Simak cara efektif melindungi si kecil dari paparan asap menurut dokter anak.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa ancaman serius bagi kesehatan bayi dan anak di bawah lima tahun (balita). Mengandalkan masker sebagai pelindung utama sering kali tidak praktis untuk usia anak-anak.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Khairiyadi Ismail, SpA, Subsp Respi(K), menyoroti bahwa balita kerap merasa tidak nyaman dan menolak saat dipasangkan masker.
Durasi penggunaan masker pada balita sangat singkat. dr Khairiyadi menyebut penelitian menunjukkan anak usia 2 tahun hanya bertahan memakai masker paling lama 60 menit sampai 2 jam.
"Kalau anak 2 tahun mungkin dipakaikan masker pun, ya dia akan melepas. Sudah ada penelitiannya itu, yang paling lama 60 menit sampai 2 jam, paling lama," kata dr Khairiyadi saat konferensi pers, Selasa (3/11/2026).
Durasi yang singkat membuat perlindungan masker kurang optimal membentengi saluran pernapasan balita dari partikel halus asap karhutla.
Melihat keterbatasan masker, dr Khairiyadi menilai meminimalkan paparan asap secara langsung adalah langkah mendesak. Cara paling efektif yang direkomendasikan adalah mengevakuasi balita dan kelompok berisiko ke lingkungan terkontrol.
"Saya sering menyarankan untuk mengungsi ke tempat yang aman. Makanya penting sekali ada mungkin tempat pengungsian, istilahnya mungkin rumah aman (safe house), untuk pasien-pasien yang mempunyai komorbid atau mempunyai faktor risiko," jelasnya.
Fasilitas pengungsian atau rumah aman dengan sistem penyaring udara memadai menjadi kebutuhan mendesak. Apalagi bencana asap akibat karhutla merupakan masalah tahunan yang terus berulang.
Rumah aman diharapkan melindungi kelompok berisiko tinggi, khususnya balita dan anak dengan penyakit penyerta (komorbid) seperti asma. Paparan asap karhutla bisa memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia pada kelompok ini.
"Itu mungkin jadi tantangan kita, karena karhutla ini terjadi berulang ya, jadi harus dipikirkan itu untuk rumah aman," pungkas dr Khairiyadi.
Jika evakuasi belum memungkinkan, ibu bisa mengurangi paparan asap di dalam rumah. Tutup jendela dan pintu, nyalakan penyaring udara bila ada, dan batasi aktivitas luar ruangan si kecil.
Pantau kondisi pernapasan anak setiap saat. Batuk berulang, napas cepat, atau sesak wajib jadi perhatian serius, terutama pada balita dengan riwayat asma.
Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul sesak napas, napas berbunyi, bibir kebiruan, atau demam tinggi disertai batuk. Balita dengan komorbid seperti asma perlu pemantauan lebih ketat selama musim karhutla.
Jangan menunda konsultasi hanya karena gejala tampak ringan. Penanganan dini mencegah ISPA berkembang menjadi pneumonia.
Melindungi balita dari asap karhutla memang butuh strategi berbeda dari orang dewasa. Prioritaskan menjauhkan si kecil dari paparan langsung, siapkan ruang bersih di rumah, dan kenali tanda bahaya sejak awal.