Perpusnas Sebut 128 Desa di Sulbar Terima 128.000 Buku Bacaan Bermutu

Penulis: Yasir  •  Kamis, 17 September 2026 | 09:16:02 WIB

MAMUJU — Kepala Perpustakaan Nasional RI Prof. E. Aminudin Aziz menyatakan bantuan buku bacaan bermutu telah menjangkau 128 desa di Sulawesi Barat. Setiap desa penerima mendapat 1.000 buku, sehingga total buku yang tersebar mencapai 128.000 eksemplar.

Realisasi program itu disampaikan Aminudin usai membuka Festival Literasi Provinsi Sulawesi Barat 2026 di Mamuju, Selasa, 15 September 2026. Menurut dia, penyebaran buku menyasar warga kepedesaan di seluruh wilayah provinsi.

"Sudah ada 128 desa yang mendapatkan buku ini, kalau satu desa 1.000 buku, berarti sudah 128.000 buku tersebar di masyarakat kepedesaan," ujar Aminudin.

Mahasiswa KKN dan Relawan Jadi Ujung Tombak Distribusi

Distribusi buku tidak dikerjakan sendiri oleh Perpusnas. Aminudin menyebut mahasiswa peserta KKN Tematik Literasi dan relawan literasi masyarakat di tingkat desa terlibat langsung menyalurkan buku ke tiap desa.

"Ini adalah program yang kita kawal bersama dengan para mahasiswa dan para relawan," katanya, menegaskan pentingnya kolaborasi lapangan.

Pelibatan mahasiswa dan relawan membuat jangkauan program lebih luas. Mereka menjadi penghubung antara pengelola program dan warga desa penerima manfaat.

Target: Kebiasaan Membaca Harian, Bukan Sekadar Buku Datang

Program buku bacaan bermutu di Sulawesi Barat berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Tujuannya menumbuhkan minat baca warga desa di seluruh wilayah provinsi.

Aminudin berharap penyebaran buku terus dipantau. Pemantauan dinilai penting agar buku benar-benar dimanfaatkan warga, bukan hanya menumpuk di rak.

Festival Literasi Provinsi Sulawesi Barat 2026 menjadi ajang membuka rangkaian kegiatan literasi di daerah. Perpusnas menempatkan kolaborasi lapangan sebagai kunci agar program membaca berjalan berkelanjutan.

Reporter: Yasir
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top