SULAWESI BARAT — Semester I 2026 menjadi periode pembuktian bagi BNI. Di bawah naungan holding Danantara, bank pelat merah ini tidak hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi juga berhasil menekan biaya dana dan menjaga kualitas aset. Hasilnya, laba bersih mencapai Rp 10,8 triliun, sementara pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) naik 14,2 persen menjadi Rp 22,3 triliun.
Pendapatan berbasis komisi (Fee-Based Income) juga ikut mendulang Rp 9 triliun, tumbuh 14,2 persen secara tahunan. Dari sisi operasional, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tercatat di angka Rp 18,5 triliun—level tertinggi yang pernah diraih BNI pada semester pertama sepanjang sejarah perseroan.
Perbaikan kinerja tidak hanya datang dari sisi pembiayaan. Struktur pendanaan BNI menunjukkan pergeseran positif: rasio dana murah (CASA) naik 11,2 persen secara tahunan ke level 65,4 persen. Alhasil, biaya dana (Cost of Fund) turun dari 2,78 persen menjadi 2,56 persen.
Kualitas aset pun terjaga ketat. Rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level aman 1,9 persen. Yang lebih menggembirakan, rasio Loan at Risk (LAR) turun signifikan dari 11 persen menjadi 8,1 persen, menunjukkan portofolio kredit yang semakin sehat dan selektif.
Ekspansi kredit BNI tidak lagi bertumpu pada segmen korporasi semata. Perseroan menggencarkan diversifikasi ke segmen menengah, konsumer, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pembiayaan ke UMKM dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan profil risiko debitur dan prospek industri.
Untuk menjangkau pelaku usaha di daerah, BNI mengaktifkan program BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment). Program ini mengoptimalkan kantor cabang sebagai pusat penjualan sekaligus penggerak ekonomi lokal. Langkah ini dikombinasikan dengan penguatan layanan digital lewat BNI direct dan Wondr by BNI untuk mempercepat akuisisi nasabah baru.
Strategi ini menunjukkan arah baru BNI: tidak sekadar mengejar pertumbuhan kredit, tetapi membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Dengan kantor cabang yang tetap relevan dan kanal digital yang agresif, BNI mencoba menjembatani kebutuhan nasabah tradisional dan generasi baru yang serba digital.
Kinerja solid di semester pertama ini menjadi modal berharga bagi BNI untuk menghadapi paruh kedua 2026. Dengan permodalan yang kuat dan manajemen risiko yang disiplin, bank berkode saham BBNI ini berada di posisi yang nyaman untuk melanjutkan laju pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global.