SULAWESI BARAT — FIFA kembali menerapkan sistem harga dinamis untuk Piala Dunia 2026, yang membuat harga tiket melambung seiring tingginya permintaan. Hasilnya, negara tuan rumah mendominasi daftar pertandingan termahal, dengan Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada mematok harga tertinggi di fase grup. Ini kali pertama Piala Dunia digelar di Amerika Utara sejak edisi 1994, dan antusiasme pasar terlihat dari lonjakan harga di platform resmi maupun pasar gelap.
Pertandingan Meksiko vs Afrika Selatan pada 11 Juni di Estadio Azteca menjadi laga grup termahal dengan tiket mulai 3.253 dolar AS. Disusul laga Meksiko vs Korea Selatan di Guadalajara seharga 1.844 dolar AS. Dua pertandingan kandang Meksiko lainnya juga tembus di atas 1.300 dolar AS.
Selain tuan rumah, Argentina menjadi tim dengan permintaan tiket tertinggi. Sebagai juara bertahan, kehadiran Lionel Messi dan Rodrigo De Paul menjadi magnet utama. Pada Copa America 2024 di AS, lebih dari 80.000 penonton memadati MetLife Stadium untuk semifinal Argentina vs Kanada, dan 65.000 orang menyaksikan final di Hard Rock Stadium.
Untuk pertandingan puncak yang akan digelar di MetLife Stadium, New Jersey, paket hospitality dan tiket premium sudah dipatok di atas 30.000 dolar AS atau sekitar Rp480 juta. Angka ini belum termasuk akomodasi dan transportasi di kota tuan rumah yang harganya meroket selama turnamen.
FIFA menegaskan bahwa harga tiket kategori 1, 2, dan 3 masih tersedia untuk publik, namun jumlahnya terbatas. Sistem harga dinamis membuat harga naik otomatis ketika permintaan tinggi, terutama untuk laga-laga yang melibatkan tim besar seperti Argentina, Brasil, dan tuan rumah.
Rata-rata harga tiket pertandingan paling mahal dipegang oleh tim tuan rumah Amerika Serikat. Faktor premi negara tuan rumah, lokasi stadion megah seperti SoFi Stadium dan MetLife, serta basis penggemar domestik yang besar menjadi penyebab utama. Meksiko di posisi kedua karena basis penggemar internasional yang luas dan daya tarik El Tri di seluruh kawasan Amerika.
Sebaliknya, Korea Selatan menjadi tim dengan rata-rata harga tiket termurah di fase grup. Perbedaan harga ini mencerminkan bagaimana FIFA dan platform penjualan kembali menyesuaikan harga berdasarkan proyeksi permintaan dan popularitas tim di pasar global.