MAMUJU — Puluhan mahasiswa dari berbagai universitas di Sulawesi Barat menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sulbar, Senin lalu. Mereka menyuarakan kekecewaan terhadap kondisi jalan provinsi yang rusak parah di sejumlah ruas, seperti di Kecamatan Simboro dan Kalukku.
Dalam orasinya, koordinator aksi menyebut kerusakan jalan sudah berlangsung berbulan-bulan tanpa ada perbaikan berarti dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sulbar. "Ini bukan jalan, ini kubangan kerbau. Setiap hari kami lihat motor jatuh, mobil terpaksa pelan-pelan. Pemerintah diam saja," ujarnya di hadapan aparat kepolisian yang berjaga.
Para mahasiswa mendokumentasikan sejumlah titik jalan provinsi yang mengalami kerusakan berat. Di antaranya ruas jalan poros Mamuju–Majene yang berlubang besar di tengah aspal, serta jalan di Kecamatan Simboro yang bergelombang dan tidak rata.
Mereka menilai kerusakan ini sudah sangat membahayakan keselamatan pengendara, terutama saat malam hari. "Kami sudah laporkan ke dinas terkait, tapi tidak ada respons. Makanya kami turun ke jalan," kata salah satu mahasiswa yang ikut dalam aksi.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak Gubernur Sulbar untuk segera menginstruksikan perbaikan jalan provinsi yang rusak dalam waktu satu bulan. Kedua, meminta DPRD Sulbar mengaudit anggaran pemeliharaan jalan di APBD 2025.
Ketiga, mereka menuntut transparansi penggunaan dana infrastruktur yang diduga tidak tepat sasaran. "Jangan sampai anggaran perbaikan jalan habis untuk proyek fiktif. Rakyat butuh jalan layak, bukan janji," tegas koordinator aksi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemprov Sulbar belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan mahasiswa. Namun, sejumlah demonstran berjanji akan menggelar aksi lanjutan jika tidak ada respons dalam waktu dekat.
Mereka juga mengancam akan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat jika pemerintah tetap abai. "Kami tidak akan berhenti sampai jalan ini benar-benar diperbaiki. Ini soal nyawa dan ekonomi rakyat," pungkasnya.