MAMUJU TENGAH — Antusiasme siswa di Kecamatan Budong-Budong menyambut program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kiriman SPPG Lumu terlihat dari kebiasaan baru di sekolah. Anak-anak berebut tangan membantu membagikan nampan, lalu duduk berkelompok dengan rapi sebelum menyantap hidangan.
Pemandangan itu terjadi di sejumlah taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah di wilayah tersebut. Piring-piring kosong dalam hitungan menit menjadi penanda bahwa menu yang disajikan diterima baik oleh para siswa.
Bekal Seadanya Kini Berganti Makan Bareng Teman
Salah satu siswi SMP Negeri 3 Budong-Budong mengaku sebelumnya merasa malu karena bekal yang dibawa hanya nasi dengan lauk seadanya. Kondisi itu berubah setelah ia bisa makan bersama teman-temannya.
"Awalnya saya malu karena bawa bekal cuma nasi lauk seadanya. Tapi sekarang saya senang sekali bisa makan bareng teman-teman, makanannya enak dan bikin kuat belajar," ucap siswi tersebut sambil memegang sendoknya.
Bagi banyak siswa, jam makan siang tidak lagi menjadi waktu menahan lapar. Momen itu bergeser menjadi kebersamaan yang ditunggu dengan antusiasme.
Petugas SPPG Dipanggil "Kakak", Bukan "Bu" atau "Pak"
Pendekatan petugas SPPG Lumu turut membentuk kedekatan dengan para siswa. Tim pendamping gizi tidak sekadar menyerahkan makanan, tetapi ikut duduk bersama anak-anak, menanyakan kabar, dan memberi edukasi gizi dengan bahasa sederhana.
Peni Eldiana, kepala SPPG Lumu, menyebut cara itu membuat jarak antara petugas dan siswa menghilang. Anak-anak jadi lebih terbuka menceritakan persoalan di rumah atau kesulitan belajar.
"Mereka memanggil kami 'Kakak', bukan 'Bu' atau 'Pak'. Itu membuat jarak hilang. Anak-anak jadi lebih terbuka cerita tentang masalah di rumah atau kesulitan belajar," ujar Peni Eldiana.
Konsentrasi Siswa Meningkat, Angka Bolos Turun
Dampak program ini tidak berhenti pada aspek gizi. Guru-guru melaporkan peningkatan konsentrasi siswa di kelas setelah MBG berjalan, disertai penurunan angka bolos dan perbaikan perilaku sosial antar-teman.
Orang tua penerima manfaat juga merasakan kelegaan, terutama keluarga prasejahtera yang sebelumnya kesulitan menyediakan makan siang layak. Seorang ibu pekerja serabutan mengaku tidak lagi khawatir anaknya pulang sekolah dalam keadaan lemas atau sakit perut.
"Saya tidak perlu lagi khawatir anak saya pulang sekolah dalam keadaan lemas atau sakit perut. Program ini seperti hadiah dari Tuhan untuk kami," ungkapnya.
Dari Paket Makanan Menjadi Sumber Harapan
Potret kebahagiaan siswa di Mamuju Tengah menunjukkan bahwa keberhasilan program pemerintah tidak selalu terbaca dari angka statistik. Senyum penerima manfaat menjadi ukuran yang lebih nyata.
Melalui pendampingan SPPG Lumu, MBG di Bumi Tomaradeka bergeser dari sekadar paket makanan menjadi sumber harapan dan kegembiraan bagi anak-anak. Setiap suapan hari ini menjadi bekal mereka mengejar mimpi yang lebih besar.