Pencarian

Mitos Horor Jeju Menguat, Wisatawan Menurun Drastis Jelang Musim Gugur

Senin, 31 Agustus 2026 • 16:38:01 WIB
Mitos Horor Jeju Menguat, Wisatawan Menurun Drastis Jelang Musim Gugur
Kunjungan wisatawan domestik ke Jeju menurun 5,4 persen pada pekan terakhir Agustus 2026.

SULAWESI BARAT — Angka kunjungan wisatawan domestik ke Jeju mulai menunjukkan tren negatif. Data Asosiasi Pariwisata Jeju mencatat, hingga 29 Agustus 2026, total kunjungan turun 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal, di awal bulan, angka kunjungan sempat lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Penurunan tajam terjadi setelah 24 Agustus 2026, saat jasad seorang pria bernama Jang ditemukan setelah dilaporkan hilang selama lebih dari 100 hari. Sejak itu, kasus-kasus lama kembali ramai dibagikan di komunitas online dan memicu kecemasan publik.

Berapa Besar Penurunan Kunjungan?

Dampak nyata terlihat pada pekan terakhir Agustus. Pada periode 25-30 Agustus, Jeju hanya menerima 213.706 wisatawan domestik. Bandingkan dengan 202.234 wisatawan pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Artinya, ada penurunan 11.472 orang atau 5,4 persen dalam sepekan.

Angka ini kian mengkhawatirkan karena tren penurunannya konsisten setiap hari. Persentasenya merangkak naik dari 0,3 persen pada Senin, menjadi 4,5 persen pada Selasa, 5,3 persen pada Rabu, hingga mencapai 10 persen pada Sabtu.

Pelaku industri pariwisata menilai faktor musiman tidak cukup menjelaskan fenomena ini. Mereka khawatir persepsi negatif akan memicu pembatalan tiket dan hotel dalam skala lebih besar.

Kasus Apa Saja yang Memicu Kecemasan?

Kekhawatiran publik meningkat setelah empat orang ditemukan meninggal dalam rentang waktu tiga hari, 22-24 Agustus. Korban ditemukan di sejumlah lokasi berbeda, mulai dari Gujwa-eup, perairan Jocheon-eup, lembah di Aewol-eup, hingga Hallim-eup.

Situasi kian runyam setelah seorang anggota militer berusia 20-an ditemukan tewas di pesisir dekat Pelabuhan Haye pada 29 Agustus. Korban pergi memancing dua hari sebelumnya dan tak bisa dihubungi.

Polisi menegaskan tidak ada unsur kriminal dalam kasus-kasus tersebut. Namun, kabar yang datang berdekatan memicu spekulasi liar di media sosial. Informasi yang belum terverifikasi kemudian digabungkan menjadi narasi besar yang mencitrakan Jeju sebagai pulau tidak aman.

Apa Respons Pemerintah dan Industri Pariwisata?

Pemerintah Provinsi Jeju langsung bergerak. Gubernur Wi Seong-gon meminta aparat menyampaikan informasi yang akurat dan cepat untuk meluruskan rumor yang beredar. "Fakta yang akurat dan informasi yang diperlukan harus disampaikan dengan cepat. Kita harus merespons secara aktif agar informasi yang belum terverifikasi tidak semakin memperbesar kecemasan mengenai keamanan Jeju," ujarnya.

Sejumlah pelaku usaha juga angkat bicara. "Kami memahami bahwa ada sejumlah pembatalan perjalanan ke Jeju setelah pemberitaan mengenai kasus-kasus tersebut muncul," kata seorang pelaku industri pariwisata. "Belum ada pembatalan dalam skala besar, tetapi jika situasi ini terus berlanjut, musim wisata musim gugur bisa terdampak."

Langkah Konkret Menjaga Keamanan

Pemerintah Provinsi Jeju tidak tinggal diam. Mereka akan membentuk sistem respons khusus untuk menangani isu keamanan dan meninjau ulang prosedur penanganan kasus orang hilang bersama kepolisian, pemadam kebakaran, dan kelompok masyarakat sipil.

Penguatan infrastruktur pengawasan juga disiapkan. Penambahan jaringan CCTV dan sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (AI) direncanakan untuk meningkatkan rasa aman bagi warga dan wisatawan. Langkah ini diharapkan mampu memulihkan kepercayaan publik sebelum puncak musim liburan musim gugur tiba.

Bagi calon wisatawan yang masih ragu, informasi resmi mengenai situasi terkini dapat dicek melalui kanal resmi Pemerintah Provinsi Jeju atau Asosiasi Pariwisata Jeju sebelum berangkat. Durasi ideal untuk menjelajahi Jeju adalah empat hingga lima hari.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks