SULAWESI BARAT — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyambut baik rencana penempatan dana SAL oleh pemerintah. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyebut kebijakan ini sebagai bentuk kepercayaan dan sinergi strategis antara Kementerian Keuangan dan perbankan nasional.
"Kami menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada BRI melalui penempatan dana SAL. Kebijakan ini menjadi langkah positif untuk memperkuat likuiditas perbankan," ujar Hery dalam keterangan resmi, pekan ini.
Fokus ke Sektor Produktif dan Prudent Banking
Hery menegaskan, jika kebijakan terealisasi, tambahan likuiditas tidak akan dibiarkan mengendap. BRI akan menyalurkannya secara selektif ke sektor-sektor produktif, terutama UMKM. Prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko tetap menjadi pegangan utama.
"Kami akan memastikan setiap penyaluran pembiayaan dilakukan secara terukur agar memberikan dampak nyata bagi perekonomian," imbuhnya. Targetnya, kucuran kredit mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat daya saing nasional.
Portofolio Kredit Tembus Rp 1.358 Triliun
Hingga Maret 2026, total pembiayaan BRI secara bank only tercatat Rp 1.358 triliun. Mayoritas dari angka itu telah disalurkan ke UMKM dan sektor riil. Dengan tambahan dana SAL, kapasitas intermediasi BRI diperkirakan semakin besar.
Untuk mengimbangi ekspansi kredit, BRI juga terus menggenjot Dana Pihak Ketiga (DPK), khususnya dana murah atau CASA. Digitalisasi layanan menjadi salah satu jurus utama untuk menekan biaya dana dan menjaring lebih banyak nasabah.
Skema Distribusi Dana SAL
Berdasarkan rencana Kementerian Keuangan, dana SAL sebesar Rp 400 triliun akan didistribusikan ke lima bank BUMN. Selain BRI, penerima lainnya adalah Bank Mandiri, BNI, BTN, dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Penempatan dijadwalkan pada Juni 2026.
Kebijakan ini bukan yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, pemerintah juga menempatkan dana SAL di perbankan saat likuiditas ketat. Langkah serupa dinilai efektif menjaga fungsi intermediasi bank di tengah tekanan global.
Dengan fundamental yang solid dan fokus pada ekonomi kerakyatan, Hery optimistis BRI bisa terus menjadi penggerak utama UMKM. "Kami optimistis dapat terus berkontribusi sebagai penggerak utama ekonomi kerakyatan," tutup Hery.