SULAWESI BARAT — Rupiah menguat terbatas ke Rp18.013 per dolar AS pada perdagangan pagi, naik 0,13% dari posisi pembukaan Rp18.035/US$. Penguatan berlangsung setelah Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui insentif biaya hedging yang berlaku sejak akhir Juni. Tekanan eksternal dari inflasi global yang diperkirakan memuncak 4,4% pada kuartal IV-2026 masih membayangi pergerakan rupiah.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini dibuka menguat tipis 0,04% ke Rp18.035/US$, sebelum melanjutkan kenaikan ke Rp18.013/US$ pada pukul 09.15 WIB. Penguatan 0,13% itu terjadi di tengah tekanan eksternal yang belum mereda, terutama kekhawatiran atas inflasi global yang meninggi.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bank sentral akan mengupayakan stabilitas rupiah. Selain intervensi, BI telah memberikan insentif biaya hedging sejak akhir Juni lalu dan akan meneruskannya.
Insentif biaya hedging menjadi salah satu instrumen yang dipakai BI untuk menarik minat pelaku pasar melakukan lindung nilai di domestik. Kebijakan yang mulai berlaku akhir Juni itu disebut akan diteruskan guna menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.
Langkah tersebut dinilai penting karena rupiah masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal. Pasar valas saat ini menimbang risiko kenaikan harga minyak yang berimbas ke inflasi negara-negara mitra dagang utama Indonesia.
Bloomberg Economics memperkirakan inflasi global mencapai puncaknya sebesar 4,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal IV-2026. Proyeksi itu kemudian turun menjadi 3% pada kuartal IV-2027.
Pemicu utama tekanan harga adalah konflik Amerika Serikat dengan Iran yang belum mencapai titik temu. Ketegangan itu membuat harga minyak bertahan tinggi dan bertransmisi ke harga konsumen di berbagai negara.
Bagi pelaku pasar, kombinasi inflasi global yang membandel dan harga minyak tinggi menjadi alasan utama menjaga posisi lindung nilai. Permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven berpotensi kembali menguat bila ketegangan geopolitik berlanjut.
Penguatan 0,13% menempatkan rupiah pada level Rp18.013/US$, masih jauh dari level sebelum tekanan eksternal membesar. Pergerakan hari ini lebih bersifat rebound teknikal ketimbang perubahan arah tren.
Tanpa adanya perkembangan baru dalam konflik AS-Iran, ruang apresiasi rupiah diperkirakan tetap sempit. Pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas jangka pendek perlu mencermati momentum ini untuk melakukan hedging pada level yang masih menguntungkan.
BI disebut akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas. Namun, arah rupiah dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak global dan data inflasi negara-negara besar.