SULAWESI BARAT — Sebuah studi di Norwegia terhadap lebih dari 55.000 bayi menemukan hampir 7 dari 10 bayi berusia enam bulan masih terbangun setidaknya sekali setiap malam. Pola tidur bayi memang tidak sesederhana yang sering dinasihatkan orang sekitar. Berikut empat mitos tidur bayi yang perlu diluruskan agar Bunda tidak lelah dan stres sendiri.
Pola tidur menempati porsi besar dalam tumbuh kembang bayi. Ketika Si Kecil sulit tidur atau kerap terbangun di malam hari, orang tua wajar merasa cemas dan mulai mencari tahu apakah ini normal. Sayangnya, tidak semua nasihat yang beredar di lingkungan sekitar berdasar pada fakta.
Informasi yang keliru soal tidur bayi bisa membuat Bunda memaksakan sesuatu yang tidak perlu, lalu berujung pada kelelahan dan stres. Empat mitos berikut termasuk yang paling sering bikin orang tua salah paham.
Banyak orang tua berharap bayinya tidur nyenyak tanpa terbangun sampai pagi. Faktanya, bayi masih sering terbangun di malam hari dan itu bagian dari proses perkembangan mereka. Studi di Norwegia yang melibatkan lebih dari 55.000 bayi menemukan hampir 7 dari 10 bayi berusia enam bulan terbangun minimal sekali tiap malam. Lebih dari satu dari empat bayi berusia 18 bulan juga mengalami hal serupa.
Studi lain pada 2020 terhadap 5.700 bayi di Finlandia menunjukkan bayi usia 3–8 bulan terbangun lebih dari sekali setiap malam. Seiring usia, frekuensinya biasanya berkurang. Di usia 12 bulan, bayi rata-rata terbangun lebih dari dua kali per malam, sedangkan di usia 18–24 bulan sekitar satu kali. Data ini berasal dari laporan orang tua, jadi bisa jadi bayi sebenarnya lebih sering terbangun.
Pola tidur bayi memang berkembang alami seiring usia, jadi tidak perlu dipaksa berhenti terbangun. Namun, bayi yang sering terbangun bisa juga mengalami kondisi tertentu yang mengganggu tidurnya. Kekurangan zat besi, misalnya, membuat bayi gelisah dan sulit tidur.
Faktor lain seperti alergi makanan, refluks gastroesofageal (GERD), hingga infeksi telinga juga bikin bayi tidak nyaman dan mudah terbangun. Gangguan tidur seperti sleep apnea turut berpengaruh. Kalau masalah tidur berlangsung lama, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter.
Tidak semua bayi memerlukan 12 jam tidur setiap malam. Bayi yang dipaksa tidur cepat justru bisa jadi rewel, lebih sering terbangun, atau bangun terlalu pagi. Studi di Australia terhadap 5.000 bayi menemukan rata-rata tidur 11 jam per malam dari usia bayi hingga hampir lima tahun, termasuk pada bayi 4–6 bulan.
Durasi tidur bayi juga berbeda antarnegara. Studi menunjukkan anak di bawah tiga tahun rata-rata tidur 10 jam di Australia, 9,96 jam di Kanada, dan 10,17 jam di AS. Angkanya lebih rendah di Asia: 8,73 jam di Taiwan, 9,02 jam di Hong Kong, serta 9,15 jam di India dan Indonesia.
American Academy of Sleep Medicine (AASM) merekomendasikan bayi 4–12 bulan tidur 12–16 jam sehari termasuk tidur siang. Anak usia 1–2 tahun butuh sekitar 11–14 jam sehari. Yang terpenting bukan memaksa durasi 12 jam, melainkan memastikan kebutuhan tidur bayi terpenuhi dan memantau polanya.
Beredar anggapan bahwa tidur siang sambil bergerak, entah digendong, di kereta bayi, atau saat berkendara, membuat bayi terganggu. Data ilmiah justru menemukan sebaliknya. Studi terhadap 64 bayi berusia dua bulan menunjukkan bayi lebih mudah tidur dan lebih jarang menangis ketika diayunkan dengan lembut.
Penelitian lain juga menunjukkan gerakan mengayun membantu pernapasan bayi saat tidur. Cara ini bahkan cocok untuk bayi dengan