SULAWESI BARAT — Kenaikan harga minyak dunia selama empat hari berturut-turut kali ini punya akar masalah yang jelas: kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran. Sebagai gantinya, Washington justru menyiapkan paket tekanan ekonomi baru yang menurut Menteri Keuangan Scott Bessent kemungkinan besar diumumkan pekan ini.
Uni Emirat Arab (UEA) sudah mengambil sikap tegas dengan menangguhkan seluruh perdagangan dan transaksi keuangan dengan Teheran. Posisi UEA memang unik—secara geografis berada tepat di seberang Teluk Persia dari Iran, membuat sektor pelayarannya kerap menjadi sasaran serangan. Keputusan ini semakin mempersempit ruang gerak ekspor minyak Iran di tengah blokade pelabuhan yang sudah diterapkan AS.
Pasar diesel global saat ini sangat ketat. Pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat konflik, sementara Rusia menghentikan ekspor setelah serangan terhadap kilang-kilang minyaknya. American Petroleum Institute (API) melaporkan penurunan stok produk sulingan yang mencakup kategori diesel, termasuk penurunan moderat di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma.
Bagi pengendara dan pengemudi truk, ini kabar buruk. Kenaikan harga diesel berdampak langsung ke biaya transportasi barang, yang ujung-ujungnya membebani harga kebutuhan pokok di pasar. Sektor industri yang bergantung pada genset diesel juga ikut tertekan.
Tekanan terbesar justru datang dari harga diesel yang melonjak lebih tinggi dari minyak mentah. Jika tren ini berlanjut, biaya distribusi barang di dalam negeri berpotensi naik, dan inflasi transportasi bisa menjadi momok yang sama seperti krisis energi 2022 lalu. Pemerintah tentu punya opsi menahan harga BBM bersubsidi, tapi itu berarti beban APBN semakin berat.
Satu-satunya kabar yang bisa sedikit meredakan adalah laporan API soal penurunan stok minyak mentah AS yang masih moderat—bukan penurunan drastis yang bisa memicu panic buying. Namun dengan rencana sanksi baru AS ke Iran dan belum ada titik terang negosiasi, volatilitas harga minyak dalam jangka pendek masih akan tinggi.