MAMUJU — Keluhan petani sawit di Sulawesi Barat (Sulbar) kian memuncak dalam beberapa bulan terakhir. Di Kabupaten Mamuju Tengah, antrean truk dan mobil pikap pengangkut TBS mengular hingga pintu masuk PT Mitra Andalan Sawit (MAS) di Barakkang, Kecamatan Budong-Budong. Warga menyebut antrean terjadi hampir setiap hari dan memaksa petani menunggu hingga empat hari.
"Sekarang PT MAS turun karena sawit antrean panjang sampai empat hari antre baru tembus, sampai-sampai buah sawit membusuk. Sudah begini sejak beberapa bulan lalu setelah lebaran," ujar seorang petani sawit di Mamuju Tengah, Hermansyah, Sabtu (16/5/2026).
Harga Jual Anjlok, Petani Terjepit Biaya Produksi
Di tengah kekacauan antrean, harga TBS di tingkat perusahaan juga kembali turun. Petani menyebut PT MAS memangkas harga Rp100 per kilogram menjadi Rp2.480 per kilogram. Sementara itu, petani plasma di Kabupaten Pasangkayu menerima pengumuman resmi dari PT Unggul Widya Teknologi Lestari per 14 Mei 2026 bahwa harga TBS turun Rp60 per kilogram menjadi Rp2.690 per kilogram.
Penurunan ini jauh dari angka yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam rapat penetapan harga TBS periode Mei 2026 pada 12 Mei lalu. Dalam rapat tersebut, harga tertinggi untuk tanaman umur 10 hingga 20 tahun mencapai Rp3.493,58 per kilogram dengan rendemen CPO 21,65 persen. Sementara untuk tanaman umur tiga tahun ditetapkan Rp2.649,81 per kilogram.
"Harga naik di meja rapat penetapan tapi sampai di meja timbangan harga turun dan itu yang berlaku di semua petani sawit di Sulbar," tulis seorang warga dalam komentar di media sosial.
Produksi Melimpah, Pabrik Tak Bertambah
Hermansyah mengungkapkan tiga penyebab utama krisis ini. Pertama, produksi sawit di Sulbar terus meningkat namun kapasitas pabrik pengolahan tidak bertambah. Kedua, pasokan TBS dari luar daerah seperti Wonomulyo, Pinrang, hingga Maros turut membanjiri pabrik di Sulbar. Ketiga, beberapa pabrik di wilayah ini buka tutup sehingga memperparah penumpukan antrean.
"Pertama buah sawit di Sulbar semakin banyak, namun pabrik itu-itu saja tidak bertambah. Kedua, banyak buah dari selatan seperti Wonomulyo dan Pinrang bahkan ada dari Maros. Ketiga, beberapa pabrik di Sulbar buka tutup," katanya.
Petani Tommo Pertanyakan Harga Riil di Lapangan
Di Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, petani mempertanyakan penetapan harga TBS yang dinilai tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Mereka menyoroti penerapan harga di sejumlah perusahaan yang tidak memperhitungkan umur tanaman sawit sesuai ketentuan pemerintah. Alhasil, pendapatan petani terus tertekan di tengah melonjaknya biaya produksi dan transportasi akibat antrean panjang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari PT Mitra Andalan Sawit maupun PT Unggul Widya Teknologi Lestari terkait keluhan petani. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat juga belum memberikan respons atas selisih harga yang dikeluhkan petani di lapangan.