SULAWESI BARAT — Wagashi bukan sekadar camilan manis, melainkan cerminan budaya dan musim Jepang. Bentuknya artistik, rasanya lembut, dan sejarahnya panjang sejak periode Nara. Berikut lima fakta yang membuat kue tradisional ini layak dikenal lebih dekat.
Wagashi sering muncul dalam upacara minum teh atau dijual sebagai oleh-oleh khas daerah di Jepang. Di balik penampilannya yang mungil, ada cerita panjang soal bahan, sejarah, sampai filosofi hidup masyarakat setempat.
Kata wagashi berasal dari "wa" yang berarti Jepang dan "kashi" yang artinya kudapan manis. Camilan ini dibuat dengan cara tradisional dan sudah dikonsumsi masyarakat Jepang sejak dulu. Setiap daerah punya varian khasnya sendiri, sehingga bentuk dan rasanya bisa berbeda antarwilayah.
Wagashi dibentuk artistik untuk menggambarkan keindahan alam dan pergantian musim di Jepang. Karena itu, tampilannya sering berubah mengikuti musim, misalnya bunga di musim semi atau daun maple di musim gugur. Bahan alami seperti pasta kacang manis, buah-buahan, dan tepung beras jadi komponen utamanya.
Monaka terbuat dari tepung beras mochi yang dicetak lalu dipanggang, biasanya diisi pasta kacang merah (anko) atau es krim vanila. Uiro dari Prefektur Aichi dibuat dari tepung beras dan beras mochi yang dikukus, dengan rasa seperti kacang azuki, chestnut, dan matcha; resepnya sudah tersebar lebih dari 130 tahun. Yatsuhashi asal Kyoto punya aroma kayu manis dan bentuk unik seperti hewan atau karakter tertentu.
Asal usul wagashi diperkirakan dari periode Nara (710-794), saat Jepang mulai terpengaruh budaya Tiongkok termasuk cara membuat kue. Dulu camilan ini hanya disajikan untuk kaum bangsawan dan bagian dari upacara minum teh. Sejak munculnya kelas samurai pada periode Edo (1603-1868), wagashi mulai dikonsumsi masyarakat umum.
Wagashi dikaitkan dengan wabi-sabi, filosofi yang menekankan kesederhanaan, keindahan pedesaan, dan hal yang fana. Bentuknya melambangkan rasa terima kasih, persahabatan, dan keramahan. Camilan ini biasa dinikmati saat perayaan keagamaan, upacara minum teh, dan kegiatan musiman.
Jepang merayakan Hari Wagashi setiap tahun pada 16 Juni. Penentuan tanggal ini merujuk periode Heian yang tercatat dalam buku harian Sh?y?ki. Catatan itu menyebut Kaisar Junna memberikan manisan kepada bangsawan di istana pada 16 Januari kalender lama, yang setara 16 Juni di kalender modern.
Dari sejarah bangsawan sampai filosofi wabi-sabi, wagashi menunjukkan bahwa kue tradisional Jepang bukan cuma soal rasa. Setiap potongnya membawa cerita musim dan budaya yang diwariskan turun-temurun.