SULAWESI BARAT — PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) memperkirakan kebutuhan pendanaan proyek waste-to-energy (WTE) selama masa konstruksi hingga kuartal II 2028 mencapai Rp131 miliar. Kebutuhan dana itu dipenuhi secara bertahap melalui anak usaha, PT Ananta Energi Asia (AEA), yang telah menyetor modal awal ke dua entitas proyek.
Langkah pertama sudah dijalankan. SOFA melalui AEA melakukan penyertaan modal kepada PT Weiming Nusantara Alpha (WNA) dan PT Weiming Nusantara Gamma (WNG) senilai USD200.000 atau sekitar Rp3,36 miliar. Manajemen SOFA menyatakan nilai penyertaan itu disesuaikan dengan porsi kepemilikan AEA pada masing-masing entitas.
"Nilai penyertaan modal tersebut dilakukan sesuai dengan porsi kepemilikan AEA pada masing-masing entitas," tulis manajemen SOFA dalam surat kepada Bursa, Jumat (18/9/2026).
WNA dan WNG akan menambah modal secara bertahap mengikuti kebutuhan pendanaan proyek selama masa konstruksi. Besaran penyertaan SOFA lewat AEA juga akan disesuaikan dengan kebutuhan proyek dan porsi kepemilikan AEA di kedua entitas tersebut.
Skema bertahap ini lazim dipakai emiten yang menggarap proyek infrastruktur energi, karena belanja modal biasanya mengikuti progres fisik di lapangan. Dengan begitu, arus kas perseroan tidak tergerus sekaligus di awal periode.
Total kebutuhan dana Rp131 miliar mencakup seluruh periode konstruksi sampai kuartal II 2028. Angka itu menjadi acuan manajemen dalam mengatur sumber pendanaan, baik dari kas internal maupun opsi lain yang belum dirinci dalam keterbukaan informasi.
Proyek WTE sendiri mengolah sampah menjadi energi listrik, sektor yang tengah didorong pemerintah untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir di kota-kota besar. Bagi SOFA, proyek ini memperluas lini bisnis di luar layanan pengelolaan lingkungan yang sudah berjalan.
Penyertaan modal lewat anak usaha membuat kewajiban pendanaan berada di level AEA, bukan langsung di SOFA. Pola ini memberi ruang bagi perseroan untuk menjaga struktur permodalan induk sambil tetap menguasai proyek melalui kepemilikan tidak langsung.
Investor perlu mencermati realisasi penambahan modal WNA dan WNG pada laporan keuangan berikutnya. Sebab, jadwal dan besaran setoran modal akan menentukan seberapa besar tekanan ke kas perseroan selama periode konstruksi.
Hingga keterbukaan informasi ini diterbitkan, manajemen belum menyebut sumber pendanaan spesifik, skema pembiayaan bank, maupun jadwal operasi komersial proyek WTE tersebut.