SULAWESI BARAT — Pemerintah menyiapkan perluasan pemanfaatan CNG (Compressed Natural Gas) sebagai bahan bakar alternatif pengganti LPG, dengan sektor komersial menjadi pintu masuk pertama. Hotel dan restoran di Yogyakarta tercatat sebagai kelompok usaha yang paling awal bergerak meninggalkan LPG. Peralihan ini menyasar konsumen usaha, sementara rumah tangga masih menunggu kesiapan jaringan gas.
Selama ini CNG lebih dikenal sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Pemerintah berharap gas terkompresi itu bisa merambah sektor rumah tangga pada tahap berikutnya, meski waktu dan cakupannya belum dipastikan.
Pelaku usaha perhotelan dan restoran di Yogyakarta menilai CNG menawarkan penghematan biaya operasional dibanding LPG. Konsumsi energi mereka besar dan harian, sehingga selisih harga per satuan cepat terasa di pembukuan.
Dari sisi pasokan, jaringan CNG di kawasan perkotaan lebih mudah dijangkau dibanding daerah pinggiran. Hotel dan restoran umumnya terkonsentrasi di pusat kota, sehingga biaya distribusi dan penyimpanan bisa ditekan.
Peralihan di sektor ini juga tidak menuntut perubahan besar pada peralatan dapur skala besar. Sebagian pelaku usaha melaporkan proses konversi burner berjalan tanpa menghentikan operasional.
Rencana masuknya CNG ke rumah tangga masih bergantung pada kesiapan infrastruktur. Jaringan pipa gas dan stasiun pengisian CNG belum tersedia merata, terutama di luar Jawa.
Harga jual CNG untuk konsumen kecil juga belum final. Tanpa kepastian itu, rumah tangga sulit menghitung apakah biaya bulanan mereka benar-benar turun dibanding tabung LPG 3 kilogram maupun 12 kilogram.
Pemerintah menyebut perluasan CNG sebagai bagian dari upaya menekan beban subsidi energi. Setiap alih konsumsi dari LPG ke gas lain berpotensi mengurangi volume impor yang harus ditanggung anggaran negara.
Yogyakarta dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini punya konsentrasi usaha kuliner dan perhotelan yang padat, dengan pola konsumsi energi yang relatif mudah dipetakan.
Jika konversi di Yogyakarta berjalan mulus, pemerintah berpeluang meniru model serupa di kota wisata lain seperti Bali dan Bandung. Sebaliknya, hambatan teknis di lapangan bisa memperlambat target perluasan nasional.
Bagi pelaku usaha, keputusan beralih tetap bergantung pada dua hal: selisih harga yang cukup besar dan jaminan pasokan yang tidak terputus. Tanpa keduanya, LPG masih sulit ditinggalkan sepenuhnya.
Perkembangan di Yogyakarta menjadi indikator awal seberapa siap CNG menggantikan posisi LPG di sektor usaha. Keberhasilan tahap ini akan menentukan apakah rumah tangga menyusul, atau tetap bertahan dengan tabung gas melon.