Pakar Sebut Kartu Pokemon Berpotensi Jadi Mata Uang Global

Penulis: Yasir  •  Jumat, 11 September 2026 | 21:51:01 WIB
Pendiri Griffin Gaming Partners, Peter Levin, menyimpan lebih dari 500 ribu trading card dari berbagai genre.

SULAWESI BARAT — Peter Levin, pendiri Griffin Gaming Partners, menyimpan lebih dari 500 ribu trading card dari berbagai genre. Dari jumlah itu, kartu Pokemon disebutnya sebagai yang paling diminati. Ia meyakini nilai kartu ini bisa bertahan bahkan ketika instrumen keuangan konvensional goyah.

Klaim Mata Uang Global Saat Kiamat

"Pokemon adalah fenomena global. Saya sangat yakin bahwa jika dunia mengalami kiamat besok, lusa mata uang globalnya adalah kartu Pokemon," kata Levin, dilansir The Hollywood Reporter, Jumat (11/9/2026).

Pernyataan itu bukan sekadar guyonan. Levin membandingkan performa kartu Pokemon dengan indeks saham S&P 500 yang naik sekitar 3.000 persen. Ia menilai kartu koleksi menawarkan pola pertumbuhan yang berbeda dari pasar saham.

Dari Jepang ke Pasar Internasional

Menurut Levin, popularitas kartu Pokemon menembus pasar dunia pada akhir 90-an hingga awal 2000-an. Setelah melewati puncak dan titik terendah, pertumbuhannya kembali melesat. "Dan hal itulah yang mendorong ekspansi pasar internasional untuk kartu koleksi," tambahnya.

Ia menyebut sejumlah nama besar ikut mengangkat pamor kartu ini. Logan Paul pernah menjual satu kartu dengan harga USD 16,5 juta (setara Rp 272 miliar) pada awal 2026. Angka itu menjadi salah satu transaksi paling fenomenal di pasar kartu koleksi.

Media Sosial Jadi Pendorong Utama

Levin menilai media sosial berperan besar dalam meledakkan permintaan kartu koleksi. "Penjualan itu sangat terkenal. Puluhan, bahkan mungkin ratusan juta orang menonton lelang tersebut. Jika Anda membuka platform media sosial mana pun, ada selebriti yang menyukai kartu koleksi," ujarnya.

Ia mencontohkan DJ Steve Aoki yang dikenal sebagai penggemar berat trading card. Aoki kerap memamerkan koleksinya di media sosial. TikTok dan Instagram disebut Levin sebagai pendorong utama aktivitas ini, ditambah platform lelang langsung seperti Whatnot yang valuasinya baru-baru ini menembus USD 20 miliar (setara Rp 330 triliun).

Nilai Komunitas di Balik Kartu Koleksi

Levin mengakui obsesinya terhadap kartu koleksi sempat ditertawakan timnya saat pertama kali membangun perusahaan. Namun ia melihat tren yang lebih besar: semakin digital kehidupan manusia, semakin besar pula kerinduan pada pengalaman komunitas yang nyata.

"Semakin digital kita, semakin teknologi mutakhir ini mengambil alih kehidupan kita, semakin banyak orang akan kembali ke pengalaman komunitas yang lebih nyata dan berkesan serta pengalaman kehidupan nyata untuk dibagikan dengan orang lain," pungkasnya.

Pasar kartu koleksi kini bergerak di persimpangan antara hobi, investasi, dan konten media sosial. Bagi pelaku bisnis digital, fenomena ini menunjukkan bagaimana aset fisik bisa mendapat kembali nilai ekonomi lewat komunitas online dan platform lelang real-time.

Reporter: Yasir
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top