BPBD Sulbar Perkuat Desa Tangguh Bencana, Kalaksa Tekankan Peran Ibu sebagai Garda Edukasi Keluarga

Penulis: Yasir  •  Selasa, 08 September 2026 | 09:16:02 WIB
Kalaksa BPBD Sulbar Muhammad Yasir Fattah menekankan peran ibu sebagai garda edukasi kebencanaan dalam penguatan Desa Tangguh Bencana di Sulawesi Barat.

MAMUJU — Peran ibu rumah tangga menjadi titik sentral dalam penguatan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) yang tengah digenjot BPBD Provinsi Sulawesi Barat. Lembaga itu menilai edukasi kebencanaan paling efektif dimulai dari lingkungan keluarga, bukan hanya dari aparat atau petugas lapangan.

Kalaksa BPBD Sulbar Muhammad Yasir Fattah menyebut keberhasilan program DESTANA menuntut keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Kaum perempuan, khususnya para ibu, disebut punya posisi strategis karena menjadi pendidik pertama bagi anak-anak di rumah.

Ibu sebagai Pendidik Utama Kesiapsiagaan Bencana

Yasir Fattah menjelaskan, ibu dapat mengenalkan berbagai potensi bahaya di lingkungan tempat tinggal kepada anak sejak dini. Materi yang diajarkan mencakup cara menyelamatkan diri hingga menentukan jalur dan titik evakuasi yang aman.

“Ibu memiliki peran strategis dalam membangun ketangguhan bencana karena keluarga merupakan lingkungan pertama dalam memberikan pendidikan dan kesiapsiagaan kepada anggota keluarga,” ujarnya di ruang kerja, Senin (7/9/2026).

Peran Ibu dalam Menyiapkan Tas Siaga Bencana

Selain edukasi, ibu juga berperan memastikan keluarga memiliki tas siaga bencana. Perlengkapan darurat itu mencakup air minum, makanan, obat-obatan, dokumen penting, senter, pakaian, dan kebutuhan dasar lain yang siap dibawa saat evakuasi.

“Ketangguhan keluarga dimulai dari rumah. Ketika ibu memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana, maka pengetahuan tersebut akan menjadi kekuatan bagi seluruh anggota keluarga,” jelas Yasir Fattah.

Mengapa Penguatan DESTANA Butuh Peran Perempuan?

Langkah ini sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka yang menekankan pembangunan masyarakat tangguh dan mandiri. Penguatan kapasitas dilakukan di tingkat keluarga dan desa sebagai basis utama ketahanan menghadapi bencana.

Yasir Fattah menambahkan, kontribusi ibu tidak berhenti di lingkup rumah tangga. Lewat organisasi seperti PKK, Posyandu, kelompok perempuan, dan komunitas desa, para ibu bisa menjadi penggerak penyebarluasan informasi serta edukasi kebencanaan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Tidak hanya di dalam keluarga, peran ibu juga sangat penting dalam lingkungan masyarakat. Melalui organisasi dan kelompok masyarakat seperti PKK, Posyandu, kelompok perempuan, serta komunitas desa, para ibu dapat menjadi penggerak dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi kebencanaan,” tutup Yasir Fattah.

Reporter: Yasir
Sumber: poinsembilan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top