SULAWESI BARAT — Danantara mengonfirmasi investasi ke bisnis kredit swasta Partners Group, namun enggan merinci nilai transaksi. Berdasarkan sumber Bloomberg, alokasi dana terbagi dalam dua skema: US$ 600 juta (Rp 10,65 triliun) untuk peluang direct lending atau pinjaman langsung, dan US$ 400 juta (Rp 7,10 triliun) dalam tranche diskresioner yang dikelola bersama skema co-investment.
Langkah ini menandai ekspansi paling nyata Danantara ke industri kredit swasta global yang nilainya mencapai US$ 1,8 triliun. Sebelumnya, lembaga itu merekrut mantan profesional investasi dari GIC Singapura untuk memimpin strategi di pasar swasta.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan investasi ini tidak semata-mata memburu imbal hasil. Menurutnya, ada tujuan strategis untuk memperkuat kapasitas investasi dalam negeri melalui transfer pengetahuan.
"Investasi di Partners Group akan ditujukan untuk peluang pinjaman langsung di seluruh Asia, terutama Indonesia," kata Pandu dalam keterangan yang dikutip Sabtu (29/8). Ia menegaskan penempatan dana kelolaan di luar negeri pada akhirnya akan kembali ke Indonesia dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Langkah Danantara mengikuti jejak sejumlah SWF global yang agresif masuk ke kelas aset kredit swasta. Temasek Holdings dari Singapura misalnya, mendirikan platform serupa pada 2024 dengan portofolio awal sekitar S$ 10 miliar (US$ 7,9 miliar).
Mubadala Investment Co asal Abu Dhabi juga menyatakan tetap optimistis terhadap investasi kredit swasta, meski kelas aset ini menghadapi pengawasan ketat akibat penurunan imbal hasil dan kekhawatiran kualitas kredit. Sementara itu, Indonesia Investment Authority (INA) sebelumnya juga menyatakan minat mendanai bersama transaksi dengan manajer kredit regional dan global.
Sebagai SWF Indonesia, Danantara mengelola ratusan BUMN dengan nilai aset sekitar US$ 900 miliar. Lembaga ini mulai agresif membangun portofolio di luar negeri, salah satunya melalui kesepakatan investasi US$ 2,5 miliar di perusahaan patungan yang mengelola operasi JBS NV di Australia dan Selandia Baru pada awal Agustus lalu.
Di sisi lain, Partners Group yang mengelola aset lebih dari US$ 186 miliar tengah mencari peluang investasi lebih lanjut di Asia seiring upaya kliennya melakukan diversifikasi di luar AS. Perusahaan ini juga menghadapi peningkatan penarikan dana oleh klien pada awal tahun, dan tengah mempertimbangkan untuk mengurangi ukuran dana evergreen-nya bagi investor kaya.